 |
 |
 |
 |
 |
|
Wednesday, April 06, 2011
aku sudah tanggalkan pakaian telanjang dalam ngotot kepercayaan.
Di luar, ada mesum. Perempuan membuka tetek, bau rokok menjelajah puting.
Di sini ku hentikan cerita, ku hentikan kelana, kupejamkan mata ………. usai satu purnama.
Cerita ganti perkara hati. Lalu kita ulang sampah dari awal lagi.
Posted at 01:17 am by jeng sueb
permalink
Sunday, March 06, 2011
Biasanya aku jarang menelepon ibu. Namun sejak ayah tidak ada aku jadi sering menelepon ibu. Aku jadi galak kepada ibu. Seolah ibu tidak lebih mengerti dunia ini dari pada aku.
Ibu layaknya pemerintah, dan aku mahasiswa yang tidak bisa membedakan antara kritis dan nyinyir. Ada saja kebijakan ibu yang membuatku marah, lalu meneleponnya dengan nada galak. Padahal, apa yang aku tahu soal dunia ini? aku baru saja menjadi 23 tahun beberapa bulan lalu, padahal Ibu sudah hampir setengah abad umurnya.
Aku selalu sok tahu, karena sok merasa lebih banyak baca, dan lebih mengerti perkembangan mutakhir dunia. Sementara perkembangan mutakhir yang ibu tahu “hanyalah” Adik laki-laki ku yang sialan itu mulai menggunakan obat-obatan terlarang.
Aku anak yang tidak berbakti. Aku kesal sekaligus lega berada jauh dari rumah. Aku kesal karena tidak dapat membantu adikku mengerjakan pekerjaan rumah, atau mengajarinya membuat pidato berbahasa inggris. Akan tetapi aku lega karena tidak perlu menghadapi kericuhan rumah yang setiap pagi seperti kapal pecah, penuh dengan teriakan.
Aku lelah, tetapi aku selalu melupakan kelelahan ibu. Aku takut, tetapi aku melupakan ketakutan Ibu.
Aku anak yang egois karena hanya peduli pada ketakutanku. Aku membaca ibu lewat rasa takut, aku melihat dunia lewat rasa takut. Lewat rasa takut juga aku menyalahkan segala-galanya, ya segalanya, kecuali Tuhan. Karena aku percaya adalah aku dan manusia di sekitarku yang bertanggung jawab atas semua ini. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri.
Maka aku semakin ketakutan. Tidak ada yang bisa kusalahkan, juga bukan Tuhan. Tanpa ada yang bisa disalahkan. Meraba-raba. Aku mengerti agama sebatas fatamorgana, aku membaca filsafat hanya seperti menonton silat, dilihat sesaat, aku mengerti seni tak lebih dari warna warni.
Maka aku mulai menyalahkan diri sendiri. Mulai mencari pledoi akan segala ketakutan, stress dan frustasi. Aku membenarkan diriku merokok dan minum bir di ujung Setiabudi. Konyol. Panik membuat manusia lupa berpikir.
Akhirnya ketakutan pun selalu termanifestasi dalam setiap perkataan galakku pada ibu.
Aku sedih karena adikku terpaksa tidak masuk sekolah menengah bergengsi karena mahalnya uang masuk. Aku membayangkan segala kemudahanku bersekolah di mana pun tempat yang aku pilih. Aku tahu adikku hanya menahan diri ketika dia bilang dia senang sekali dengan sekolahnya yang sekarang ini. Namun aku tidak punya keberanian menangis di hadapan ibu.
Maka aku marah.
Aku marah ketika menelepon ibu. Aku marah mengapa ibu tidak mau mengeluarkan uang agar adik masuk sekolah bagus itu. Aku memojokan ibu dengan segala peninggalan ayah. Mengapa tidak menjual salah satu bidang tananh, mengapa tidak menjual salah satu rumah, emas, atau apalah. Aku lupa bahwa sekolah adalah lingkungan sosial.
Dengan sabar ibu jelaskan bahwa ia tidak akan tega melihat adikku rendah diri dihadapan temannya yang menggunakan handphone dengan harga lima juta sementara handphone milik adikku hanyalah sisa-sisa peninggalan ayah. Tapi aku tidak menerima alasan itu.
Kalau saja sabar berhadiah uang, ibu pasti sudah kaya raya melalui perdebatannya denganku kala itu.
Kemarin dulu aku begitu sering menelepon Ibu. Tetapi ketakutanku terus menggebu. Padahal dari pada terus mengharu biru bukankah lebih baik kutabung dan kukirimkan uang untuk adikku lewat ibu. Tetapi aku selalu sulit menyisihkan banyak uang, dan ini membuatku semakin ketakutan.
Aku malu karena yang pertama kukhawatirkan ketika ayah tak ada justru adalah biaya hidup, bukan soal betapa sulitnya adik-adikku kehilangan figur ayah. Belakangan hal ini membuatku paranoid. Lalu kegalakkan ku pada ibu pun menjadi-jadi.
Aku benci ayah harus mati, karena aku anak yang tidak berbakti.
Aku selalu menganggap ibu tidak bisa tegas kepada adik laki-laki ku yang selalu kumaki itu. Ayah sudah memanjakannya dengan uang, lalu aku menyalahkan ayah. Aku lupa bahwa kehilangan ayah adalah juga hal berat buat mereka berdua: ibu dan adik laki-lakiku. Aku lupa memperhatikan setiap rasa mereka. Aku lupa merasakan rasa, hingga tumpukan rasa membuatku menjadi lebih merasa, dan ketakutan sesudahnya.
Maka aku tertawa. Karena tertawa adalah satu-satunya yang bsia kulakukan ketika tangis tak lagi berguna.
Aku lupa untuk menikmati sakit dan menyelesaikan masalah. Aku pengecut, aku takut sakit. Maka aku marah. Aku marah pada semua orang. Pada mantan pacar, pada senior, pada teman kos, pada pacarnya mantan pacar. Pada semua orang yang bisa kumusuhi.
Aku takut mengakui ketakutanku. Aku takut pada masa kini dan masa depan. Aku takut ibu tidak baik-baik saja, aku takut ibu merasakan sakit.
Aku lupa bahwa sikapku yang membuat ibu sakit dan tidak baik-baik saja.
Maka kukurangi kuantitas menelepon Ibu. Berharap aku segera menyelesaikan urusan ini dengan diriku, agar bisa lebih sering menelepon ibu.
Posted at 01:25 am by jeng sueb
permalink
Monday, February 07, 2011
(SOK) membaca FPI lewat si Erich Fromm
*catatan membunuh risau pada halte dan stasiun
Siang itu kartu the bodyshop (TBS) people saya tidak bisa digunakan, lalu saya disarankan untuk membuat kartu baru. “Lagi pula sekarang model kartunya baru, kartu mba ini, keluaran lima tahun lalu ya? Sekarang modelnya sudah beda,” kata petugas TBS. Toh juga tidak rugi, maka saya mengiyakan saran dia.
Selanjutnya saya harus menulis data diri saya. Agak mengejutkan ketika agama menjadi salah satu yg harus saya cantumkan. Spontan saja saya bertanya, apa hubungan antara agama saya dan sebuah kartu point reward.
Ini bukan soal saya beragama atau tidak atau soal apa agama saya, tentu juga bukan soal malu atau takut mengakui agama saya, tetapi saat pertanyaan mengenai berapa pendapatan anda sebulan, berat badan, atau umur saja bisa menjadi pertanyaan yg kurang sopan, mengapa pertanyaan mengenai agama dianggap lumrah?
Mungkin ini thesis yang salah, tapi di Indonesia, setidaknya di lingkungan yang pernah saya ketahui, banyak yang beragama sebagai bentuk melembagakan diri. Mencari orang-orang yang sama dan dapat membantu mengikis rasa keterpisahan diri atas dunia luar dengan cara mencari orang-orang yang sama.
Meminjam istilah erich fromm, Manusia adalah kehidupan yang sadar akan dirinya. Kesadaran akan dirinya dan sekitarnya, serta keterpisahan akan asalnya (tentu umat beragama kebanyakan yg saya ketahui diajarkan hidup utk mempersiapkan hidup sesudah mati, yaitu hidup asalnya) membuat disunited existance (eksistensi tak bersatunya, keterpisahan manusia) menjadi suatu bentuk yang mengerikan.
Kengerian akan keterpisahan itu membentuk budaya mengenal tuhan, pemujaan pada dewa, atau bentuk lainnya dalam ritual, mantra-mantra, gerakan-gerakan, hingga mencapai trance, keadaan di mana orgasme membawa pada hilangnya batasan yang membuat keterpisahan pada dunia luar.
Orgasme semacam itu adalah menggelegak, berapi-api, dan cepat. Mungkin semacam trance menggunakan obat bius atau saat berhubungan seksual.
Mungkin hal inilah yang membuat hubungan personal dengan tuhan tidak cukup bagi beberapa orang. Dibutuhkan adanya kesatuan di mana orang-orang yg tergabung di dalamnya berada pada situasi masokhistik, membiarkan diri untuk patuh pada suatu perintah atau mungkin siksaan yang sama, sehingga menanggung hal yang sama dan tak lagi ada keterpisahaan. Situasi yang lebih membutuhkan kesamaan ketimbang kesatuan. Situasi yang secara tak sadar membawa individu di dalamnya pada situasi terkonformitas.
Tentu “trance” dalam konformitas ini jauh lebih stabil ketimbang trance individu ketika menghadap tuhannya. “trance” ini menjadi hal nyaman bagi individu sehingga mereka mencari dan mencari individu lain guna “mengamankan” kesempatan “trance” mereka itu.
Tak seperti kesatuan melalui hubungan personal dg tuhan, maupun trance dalam hubungan seksual, kesatuan dalam konformitas lebih tenang dan rutin, tidak menggelegak. Semacam penyerahan diri pada tanya yang tak berjawab, tanpa ada perasaan salah karena ada banyak individu lain yang sepenanggungan.
Hal inilah yang kemudian (mungkin) melembaga, dan sering kali melupakan hubungan personal antara seseorang dengan tuhannya.
Dalam konformitas ini, manusia adalah bentuk patuh, masokhisme, sementara tuhan dalam pandangan mereka adalah sosok sadisme, bentuk yang ingin mendominasi dan tidak memberi ruang bagi objeknya untuk berfikir. Hal ini membawa manusia dalam jerat seperangkat aturan yang tak terbantahkan.
Hal-hal mengerikan ini telah menghilangkan agama dan tuhan dalam bentuk personalnya di negara ini. Agama adalah lembaga mengerikan yg jika kamu tidak memilih untuk berada di dalamnya maka kamu adalah pendosa yg tak terampunkan kesalahannya.
Saya tidak mumpuni untuk menyalahkan agama. Saya tidak sedang menyalahkan agama. Saya tidak sedang menyalahkan apapun. Hanya saja saya pikir tuhan punya tempat yang jauh lebih berguna selain sebagai penanda di kartu-kartu identitas.
Lagi pula, begitu dia atau tiada di kartu identitas, apakah itu menjadi hal yang mengukuhkan ada atau tiadanya seseorang?
Ahmadiyah misalnya, tak ada agama itu dalam kartu identitas, mungkin hal itukah yg menyebabkan pemerintah enggan peduli pada ke-ada-annya? Sehingga hanya bisa prihatin sambil membiarkan yang ‘tiada’ kembali menjadi tiada?
Saya bukan pembaca intense erich fromm. Bingung saya melihat cara-cara beragama di indonesia ini. Apakah ‘trance’ bagi kelompok Baasyir, FPI dan lain-lain bukan hanya pada konformitas mereka, tetapi juga akhirnya karena konformitas dan masokhisme itu semakin kental, mereka mulai memaksa orang-orang lain untuk masuk dalam lingkaran mereka sebagaimana yang (mereka pikir) dititahkan oleh tuhan mereka?
Atau janga-jangan segala yang mereka lakukan justru manifestasi dari segala ketakutan yang tidak tampak? Karena mereka belumlah merasa aman dengan hubungan keagamaan yang selama ini mereka bangun. Mereka justru terus mencari cara untuk menghilangkan keterpisahannya, mengira-ngira cara terbaik salah satunya melalui pembantaian-pembantaian yang mereka lakukan. Seperti ketika seorang anak kecil yang dengan kejamnya mencari tahu mengenai capung dengan cara mempreteli sayap capung. Begitu juga cara mereka mencari cara mengatasi keterpisahan dan ketakutan yang tak tampak itu.
Posted at 01:23 am by jeng sueb
permalink
Sunday, February 06, 2011
buku hanya benda-benda dan kamu hanya kata-kata: (yang) menunggu gerimis pada tubir kaca. jika cinta adalah cinta, maka tak ada tempat bagi cinta. serupa bunga-bunga, dipetik lalu diletakkan di mata jendela. (yang) memandangi jalanan dengan murka.
Posted at 01:19 am by jeng sueb
permalink
Monday, January 17, 2011
Mawar Merah Muda dalam Keranda
Kerjaanku selain berak dan kencing adalah makan dan berfikir. Kadang aku kira aku ini kaisar jepang, tapi ternyata ayahku seorang palembang. Lain waktu aku yakin aku adalah tuhan yg menyamar menjadi yahudi, atau bikhuni. Kalau pikiranku sedang demikian, aku bisa saja memikirkan hidup sekaligus mati. Begitulah. Selalu ada dua sisi dalam kemungkinan. Dan doa terlalu gaib untuk menjawabnya, atau mungkin terlalu kosong.
Aku juga berfikir soal doa-doa. Merapal doa adalah kegiatan yang terlalu gaib buat dipercaya. Misalnya, merapal doa apapun, sebanyak apapun, bagaimanapun caranya, tak akan membuat ayahku terjaga. Saat petinya tiba di jakarta, aku tak ingat untuk merapal doa, meminta supaya lebih awal di berada di sana, saat hangat masih ada.
Kucium keningnya, dingin.
Subuh itu aku terjaga, meronta. Siang sebelumnya aku telepon ibu. Untuk hal ini aku bersepakat dengan the upstair, terima kasih tuhan sudah menciptahan alexander graham bell. Saat itu aku mengatakan dengan bimbang akan segera pulang, tapi ibu bilang ayah membaik. Ayah sudah bisa berjalan-jalan keliling komplek perumahan, bahkan ikut mencoblos pada pemilu kali itu.
Dia juga minta diajak ke tukang cukur.
Beliau memang begitu taat pada negara. Bahkan diakhir hayatnya pun hal terakhir yang dilakukannya adalah menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.
Dan aku, sebagai anak yg tidak peka, senang saja ketika ibu mengatakan hal itu. Senang karena ayah membaik. Senang karena tidak perlu mengambil keputusan sulit, pulang di tengah pengerjaan skripsi bukanlah hal yg menarik.
Entah purnama, entah sabit, entah tanpa keduanya saat ibu menghubungiku tengah malam itu. Ayah tak lagi ada katanya. Ah sial, ini bukan jenis berita yg ingin kudengar di tengah bab 4 skripsiku. Saat itu aku pikir aku mendengar kata kematian dari iklan prabowo subianto atau wiranto. Atau jangan-jangan kata kematian itu berasal dari buku karangan barthez yang sedang menjelaskan kegiatan minum wine sebagai kultur eropa itu. Tapi, kematian ternyata menggantung di corong telepon. Baiklah, berlebihan, aku menggunakan telepon genggam. Jelas tak bercorong.
Air mata memburamkan pandang ke monitor. Jelas tampak Prabowo Subianto sedang melintasi sawah. Aku berharap yang mati adalah Prabowo, bukan ayahku. Skripsi yang bahkan tidak mendapat nilai A ini adalah salah satu faktor yg menyebabkan ayahku hanya bisa berucap “jaga adikmu” melalui telepon genggam saat siangnya. Bisa-bisanya aku menunda pulang karena skripsi sialan yang akhirnya menggelendotiku hingga pemakaman.
Kubawa buku-buku referensiku ke Tangerang. Buku-buku itu hanya berada beberapa jengkal saat peti kayu dibuka, dan ayah dikeluarkan dari dalamnya. Tak sekedar menggunakan kafan, tapi juga terbungkus plastik, prosedur standar menerbangkan jenazah dengan pesawat, kata ibu.
Andai tangan kananku tak melarat pada kesibukan fatamorgana, maka bukan hanya melalui gambar kamera kulihat sosok terakhirmu. kuingat pintamu tuk menjaga adik-adik, menjaga adik, bukan tugas mudah, lalu kau tinggalkan mereka begitu saja, seperti kumpulan mawar merah muda yg harus kulindungi dari sengatan matahari agar tidak layu.
Mataku berkedip tapi hatiku tidak, bahkan tak tahu harus apa.
Ketika bapak-bapak dan anak muda yg semuanya pria mulai menyolatinya, aku bahkan tak lagi peduli pada rapalan doa-doa. Doa sekadar cara menenangkan diri. Dan doa apapun tak akan membuatku tenang, tak akan membuatku berhenti mengutuki adik laki-laki ku yang tak mau menyolati ayahnya.
Belakangan benar-benar kutengkari dia. Atas berbagai sikapnya, karena ayah bersabda harus kujaga mereka. Aku pikir ribut-ribut kecil adalah salah satu cara menjaga. Meski bukan cara terbaik. Tapi, apa lagi yg diharapkan dari remaja duapuluhan yang harus menjaga 4 adiknya. Maka aku memaklumi diriku sendiri.
Aku bukan jenis manusia yang mengutuki tuhan. Juga bukan jenis manusia yang merapal doa. Biar saja dia ada atau tidak. Toh doa terlalu gaib, atau terlalu kosong, apalagi jika ditambahi usaha yg tak ada. Maka kubiarkan saja semua berjalan. Mati atau tidak matinya seseorang, aku tetap harus bersegera menyelesaikan analisa semiotikku mengenai pencitraan prabowo lewat iklan politiknya.
Ayah selalu mengenalkan prabowo sebagai seseorang yg lulus bersamanya di akademi hukum militer. Katanya, mereka diwisuda oleh try sutrisno. Tentu saja dapat dimengerti bahwa ayahku bukan penyuka PKI.
Sekali perbincangan kami mengenai komunis, kukatakan pembantaian yg diklaim orde suharto sebagai perbuatan komunis, tidak ada hubungannya dengan pemikiran asli komunis atau sosialis dari pria berjanggut keriting yang belakangan kuketahui bernama karl marx. Tapi ayah terlanjur membenci komunis. Maka jawabannya kala itu adalah: “jangan berisik, suara tv nya ga kedengeran”, ujarnya seraya menekan tombol volume di remote control.
Ayahku tentu tak pernah bersepakat kalau wartawan adalah jenis pekerjaan yg pantas dicita-citakan. Apalagi aktivis, terlebih aktivis lingkungan. Keduanya adalah pekerjaan sia-sia.Kalau punya uang berlebih, tentu saja aku tak ingin bekerja macam ini. Jika uangku berlebih, aku akan menjadi pengusaha media yang menyerukan isu-isu lingkungan. Maka akan kunamakan pengusaha media lingkungan. Agar jauh-jauh dari kata wartawan dan aktivis yang dibenci ayah tanpa harus meninggalkan keduanya.
Sesaat malam gelap gulita, aku teringat ayahku. Dia yang membelaku jika adik tak mau sejenak mematikan tv dengan tayangannya, audisi manusia yg paling tidak takut hantu. Acara bodoh yg sia-sia. Aku yg ketakutan setiap melihat acara itu, tentu lebih tinggi kadar kebodohannya.
Ayahku juga yang memarahiku jika Sailormoon diputar di Indosiar, sehingga aku tak mau mengerjakan PR matematika. Kala itu, aku langsung merapal doa–masih kupercaya gaib doa yg tak terlalu gaib hingga bisa mencapai keinginan kecilku. Aku berdoa dengan khusuk kepada tuhan yg kukenal sebagai tuhan yg kesepian, sendirian, agar besok pagi sekolah roboh saja, agar tak ada lagi PR matematika. Namun kukerjakan juga PRnya sambil bersimbah air mata, membayangkan Usagi Tsukino yang sedang melayangkan bulan sabit kembar.
Sayangnya yang kali ini kudapati adalah ayahku yg terbujur kaku, seperti baru saja terkena mawar merah tuxedo bertopeng. Dipanggul menuju lubang menganga di antara gundukan tanah merah. Tak pernah kusangka kalau aku kan menabur bunga melati di pemakaman ayahku seperti saat kulihat anak-anak Soeharto menyiramkan berton-ton bunga melati ke makam mewah bu Tien melalui televisi. Meski tak mewah, tetapi makam ayahku juga harum melati, dicampur daun pandan, kenanga, dan sedap malam.
Lagi-lagi aku kembali berfikir, apakah yg sudah mati, di alam sana akan saling memamerkan betapa indahnya liang akhir mereka.Seperti kebanggaan mereka akan tempat tinggalnya di dunia. Kalau begitu mungkin ayahku akan jauh dari Soeharto, karena makam mereka tak setara mewahnya, sehingga kemungkinan ayah kehilangan doktrin orde baru mengenai PKI akan semakin tinggi kansnya.
Aku tak yakin apa ada alam barzah itu, ataukah reinkarnasi. Tak akan juga pernah tahu hingga ku mati. Karena doa terlalu kosong atau terlalu gaib untuk menjawabnya. Maka biarlah ayah terbaring kaku, karena doa dan segala lelayu tak membantu, setidaknya sudah kuhadiahkan toga hitam pada hari jadinya yang ke lima puluh, november dua tahun lalu.
Posted at 01:18 am by jeng sueb
permalink
Friday, November 26, 2010
Ini disebut menjelajah, boi!
Indonesia punya wilayah yang sangat luas. Sayang betul kalau sampai mati kita belum menjelajah luasnya. Belum perlu lah berbangga keliling Thailand kalau belum juga sampai ke Lamalera. Katakanlah Lamalera terlalu jauh dan mahal, setidaknya Karimun Jawa, boi!
Banyak kawan yang tidak pernah menjelajah karena alasan dana. Alasan klasik, yang agaknya tidak perlu ada. Tak perlu lah menjadi kaya untuk sekadar menjelajah. Gajiku pas-pasan, adikku banyak pula, kalau bicara soal dana, tak akan pernah bisa aku menjelajah ke mana-mana.
Begini saja, pernahkah kau tahu apa yang ada di sebelah rumah? Pernah kau tahu capung ungu yang menaruh telur di waduk kecil ujung gang? Tentu saja kau tak tahu, tak pernah pula ada ketertarikan akan hal itu, bukan? Ini yang kusebut menjelajah. Berajalanlah ke pelosok yang tak pernah dipedulikan orang. Niscaya kau kan bertemu banyak hal di sana boi.
Kita kembali saja ke kampung halaman. Aku tak terlalu lama tinggal di Palembang, tetapi boleh dibilang banyak hal yang aku tahu lebih dari teman-teman yang lahir, besar, berak, bercinta, punya anak, dan mati di sana. Hanya karena aku suka menjelajah, mereka tidak.
Mereka mungkin tahu ada banyak tacik yang menjual pempek enak di pasar ulu, di bawah jembatan Ampera. Juga ada banyak pedagang duku manis di sana. Tak mahal jua harga pempek dan dukunya. Namun, yakinlah tak banyak yang tahu kalau di sana ada vihara tua, paling tua yang pernah ada. Ratusan tahun. Meski aku tak yakin jika itu yang tertua di Sumatera, tetapi penjaganya bilang yang tertua di Palembang.
Cina semua kah yang datang dan berdoa di sana? Kalau dilihat sepintas, sebagian besar memang, tetapi siapalah bisa membedakan palembang dengan Cina? Mereka semua beranak pinak dari Cina yang membuang hartanya di dasar sungai Musi. Mereka semua Cina. Tak masalah jika kau katakan semua Cina yang datang.
Sayangnya, kau salah besar jika mengatakan semua yang datang adalah Konghucu. Salah besar boi. Banyak muslim yang datang ke sana. Vihara itu tidak lahir dalam konteks agama. Dia lahir dalam konteks budaya. Siapa saja boleh datang ke sana, berdoa, mencari berkat, minta pengasih, menengok masa depan, atau sekadar melanggengkan tradisi moyang mereka. Tak ada yang melarang. Tak ada panser yang kan menyerbu. Vihara merah itu tetap gagah meski tak hanya meriah oleh mereka yang bertuhan pada dewa.
Ini yang kukatakan menjelajah. 4,5 dari lima kawan yang kukatan lahir, berak dan mati di Palembang, kan terperangah ketika mendengarnya. Ini menjelajah boi. Tak perlu uang banyak. Sedikanalah 2000 perak untuk ongkos angkutan umum. Kalau sedang untung kau bisa menumpang, kalau sedang apes, ya jalan kakilah. Seperti saat aku berjalan kaki 7 kilometer karena kehabisan uang dan tidak ada atm di sekitaran Dieng. Tapi tak apa, inti menjelajah adalah bergembira, boi.
Ah, mungkin kau tak suka vihara ya? Bau dupa memang mengingatkan pada setan di film cina, melompat dengan tangan kaku terulur ke depan. Sebaiknya kita bicara lainnya saja, ke pasar mungkin boi?
Biar becek, pasar adalah tempat menjelajah yang tiada duanya. Seberapa lama pasar di dekat rumahmu itu berdiri? Tidak kau tahu? Padahal selama ini susu yang kau hisap dari tetek emakmu adalah hasil dari konsumsi daun katuk yang dia beli dari pasar itu. Tidakkah pasar itu penting buatmu?
Ambil sepatumu, cepat sana pergi ke pasar itu. Biar kau tahu ada anak ayam di cat warna-warni berharga dua ribu. Temukan pameran boneka murahan yang bahkan tak lucu. Juga ada babu-babu ayu yang kan meningkatkan berahimu.
Ket: boi adalah kata sapaan untuk anak muda (baik laki-perempuan), di beberapa wilayah di Sumatera bagian selatan (palembang, bangka, belitung)
Posted at 01:15 am by jeng sueb
permalink
Tuesday, October 05, 2010
Hari ibu memang masi dua bulan lagi, tapi saya ingin menceritakan soal ibu sekarang juga. Toh hari ibu atau bukan, ada atau tidak hari ibu itu, ibu saya tetap ibu juara nomor satu sedunia.
Ibu tidak pintar memasak. Saya berani bertaruh, setiap orang pasti lebih suka masakan ayah. Sayang ayah sudah tidak ada, maka saya harus bersyukur masih bisa menikmati pindang tulang iga favorit, racikan ibu.
Sayangnya, kepulangan saya Ramadhan kemarin tidak dapat diwarnai dengan pindang tulang iga favorit. Maklum, menjelang lebaran, harga daging sapi jadi selangit. Kebanyakan penjual di pasar tradisional memutuskan untuk tidak menjual daging.
Beberapa minggu sebelum lebaran itu, ibu hampir setiap hari ke pasar dekat rumah. Yang belakangan saya ketahui, demi mencari tulang iga untuk dijadikan pindang. Padahal beliau bukan orang yang suka pergi ke pasar. Saya ingat betul, ketika saya masih tinggal bersama Ibu, belum tentu seminggu sekali beliau mau ke pasar tradisional.
Menurut Ibu, daging akan lebih mudah ditemukan ketika lebaran usai, atau sebelum lebaran, namun dengan harga yang menggila. Sayang, hampir dua minggu sebelum lebaran saya harus kembali ke Jakarta.
Tapi ternyata Ibu tidak pernah lupa kalau saya belum juga berhasil menikmati pindang tulang kesukaan. Beberapa hari yang lalu beliau menelepon.
“Teh, lagi sibuk ga?” “Lagi nulis mam, sekarang masih di Kemendag. Kenapa emangnya?” “Nanti pulang jam berapa?” “Ya kayak biasa. Emang kenapa sih?” sahut saya agak kesal karena harus membagi konsentrasi antara memahami angka ekspor yang katanya terbesar sepanjang sejarah, menulis, dan mendengarkan Ibu. “Maksud mama, kalau kamu bisa pulang agak cepat, mama mau masakin pindang tulang, nanti kan pesawat ade transit dulu di jakarta. Sempat ga kalau ngambil di bandara?”
Aih, menyesal saya sudah kesal beberapa detik lalu. Kasih ibu memang sepanjang masa, tak mengenal jarak, apalagi usia.
Posted at 01:13 am by jeng sueb
permalink
Tuesday, August 31, 2010
Antara Sudirman dan Planet Kecil
Kampanye lingkungan memang sulit untuk bisa se-masif kampanye penjualan barang tertantu, karena pengaruh dari sikap cinta lingkungan bukanlah sesuatu yang instan, bukan sesuatu yang dapat dirasakan langsung oleh orang-orang yang hidup dengan cara yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup.
Saya tidak sedang membicarakan sesuatu dalam skala luas. Walhi, Greenpeace, Jatam, atau organisasi-organisasi lain yang mempromosikan bumi yang lebih baik. Tentu saja mereka melakukan hal-hal yang luar biasa, tapi apa yang mereka lakukan akan menjadi jauh lebih baik dan sangat terbantu kalau setiap orang tidak hanya berfikir untuk mengubah dunia, namun juga mengubah diri sendiri! Maka kita akan berbicara dalam level yang lebih kecil: kebiasaan kita sehari-hari.
Saat mengurangi menggunakan mobil atau motor dan beralih ke angkutan umum, sepeda, atau menjadi pedestrian, rasanya memang sering kali mengesalkan. Berdesakan di angkutan umum tentu lebih melelahkan jika dibandingkan denagn duduk di dalam mobil ber-AC sambil membaca majalah mengilap yang telah sukses menggunduli hutan. Mengendarai sepeda dengan kendaraan bermotor di kiri kanan tentu saja menyebalkan karena terpaksa menikmati asap tebal yang bukan tanggung jawab pengendara sepeda. Bahkan menjadi pedestrian saja sulit, trotoar sering kali diserobot pengendara motor galak yang menyalahkan pejalan kaki kalau menghalangi. Lalu, apa yang didapat? Ya, memang hampir tidak ada!
Saat berbelanja dengan menggunakan kantong belanja sendiri, atau saat membeli minuman/ makanan untuk di bawa pulang dengan menggunakan tempat yang saya bawa sendiri, tatapan aneh memang selalu bermunculan. Bahkan saya pernah disangka mengutil dan diperiksa satpam di depan umum. Memalukan? Tentu saja tidak. Ini kan kesempatan saya untuk menjelaskan kepada satpam dan para pengunjung yang menonton saya bahwa menghindari penggunaan plastik dapat membantu bumi bernafas lebih baik, meski untuk satu detik. Apa yang saya dapat? Apa saya langsung mendapat udara segar? Tentu saja tidak, saya hampir tidak mendapat apapun kecuali menjadi tenar sesaat karena disangka ngutil. Hehe…
Suatu kali ketika berjalan kaki sepanjang Sudirman, tiba-tiba saya merasa bahwa gedung yang menujulang dan asap tebal di kiri kanan ini jangan-jangan adalah dekadensi peradaban. Seperti kata Lemn Sissay, bagaimana kalau hal-hal yang kita anggap kemajuan, justru adalah kemunduran? Apa iya, hidup “modern” adalah lebih baik dari kehidupan suku anak dalam di Jambi sana?
Mengapa suku anak dalam, suku sasak, suku Asmat, dipaksa modern? Dipaksa berbahasa Indonesia, diberi pakaian, dibuatkan sekolah formal dengan kurikulum kementrian pendidikan. Apakah ilmu dari pendidikan sekolah formal dapat membantu mereka mendapatkan buruan yang lebih baik? Atau, jangan-jangan sekolah dan segalanya itu adalah persiapan agar mereka dapat bertahan ketika Hutan yang menjadi rumah mereka dihancurkan?
Kenapa orang kota sok merasa bahwa lebih modern adalah lebih baik dan bak pahlawan menawarkan cara hidup baru bagi mereka? Apakah iya, menjadi lebih modern dan berkejaran dengan waktu adalah lebih baik? Bagaimana kalau ternyata yang lebih baik adalah hidup seperti mereka? Bersahabat dengan alam, sederhana, dan tidak saling merusak. Kenapa tidak membiarkan hutan mereka, mata air mereka terus alami agar mereka dapat mempertahankan budaya uniknya? Berapa ratus budaya yang harus dikorbankan, dihilangkan demi kehidupan modern yang belum tentu bikin bahagia dan belum tentu lebih baik ini?
Seorang teman dari Kalimantan mengatakan bahwa salah suku Dayak di daerah dia tinggal mulai terserang diare. Dan hal tersebut kemudian menjadi celah bagi kehidupan modern untuk masuk, dan mengatakan bahwa gaya hidup tradisional tersebut tidak sehat. Namun setelah dirunut, ternyata kehidupan modern itu sendirilah yang telah merusak budaya unik mereka. Pertambangan telah mencemari mata air suku tersebut. Lalu, apa masih tidak tahu malu untuk muncul sebagai pahlawan?
Bagaimana kalau segala yang kita pikir lebih baik ini justru tidak lebih baik? Bagaimana kalau sebenarnya yang terbaik adalah yang sudah kita tinggalkan ratusan tahun lalu? Lagi pula, bukankah yang terbaik itu selalu berubah secara konstan? Masihkan harus percaya yang lebih baik? Apa iya, asap pabrik yang mengepul itu lebih baik? Apa iya, sugai Ciliwung yang hitam dan pekat itu lebih baik? Apa iya, high heels dan blazer itu lebih baik?
Saya tidak pernah membenci kehidupan modern. Toh saya adalah salah satu roda penggerak di dalamnya. Namun saya tidak suka superioritas kehidupan modern yang merasa bisa mendefinisikan segalanya. Termasuk mendefinisikan mau diapakan bumi ini nantinya. Saya masih berjalan di sepanjang Thamrin-Sudirman, merasa kecil dan sendirian. Dan resep kecil untuk planet kecil saya tak akan pernah berhasil. Saya berputus asa. Toh saya juga tidak pernah mendapat apa-apa.
Setiap hari satu orang menghemat penggunaan listrik, setiap hari juga rumah gedong sepanjang Kemang menghidupkan puluhan AC tanpa ada manusia di dalamnya: sebuah pemborosan. Jika beberapa teman menggunakan kertas di kedua sisinya, dan kemudian mendaur ulangnya, maka ada ribuan orang yang membuang-buang kertas yang baru ditulisi satu baris. Dan ketika produk lokal dipilih untuk mengurangi emisi gas yang dihasilkan dari impor barang, pemerintah terus saja mengimpor ini itu. Lagi pula, Siapa yang mau membeli produk yang lebih mahal jika mereka bisa mendapatkan yang lebih murah? Meski sedikit kurang sehat, toh efeknya absurd, tidak dilihat saat ini dan tidak terhitung saat ini.
Namun, saat kelelahan dan duduk di pinggir jalan Sudirman itu, merasa bahwa tak ada yang saya dapatkan, saya jadi sangat tertarik pada pohon besar di depan saya. Butuh berapa tahun untuk menanam pohon sampai bisa sebesar itu? Apa si penanam pohon masih hidup dan bisa menikmati berteduh di bawah pohon besar yang rindang itu? Atau jangan-jangan si penanam pohon tau bahwa beliau tak akan bisa menikmati sampai pohon itu kokoh dan rindang, karena tak ada waktu untuk menikmatinya.
Pohon itu mengingatkan saya pada Francis Dela Cruz, seprang enviromentalis yang menghabiskan lebih dari 20 tahun hidupnya untuk Bumi yang lebih baik. Dalam banyak kesempatan Papa Francis selalu mengatakan bahwa “What I am doing now, is planting fig trees. I know I won’t have enough time to either taste the fruit or find the tree big enough. But I know my grandchildren, or anybody from the future going to taste the fruit. And that’s enough for me, to imagine that somebody going to take the positive benefit from what I’m doing now. Environmental thing always need more than just 20 years until you find progress result”.
Dan ucapan Papa Francis tersebut selalu melegakan saya. Urusan lingkungan memang tak sekadar membutuhkan sepuluh atau 20 tahun. Jika bumi terus dieksploitasi, MUNGKIN manusia bisa adil pada sesamanya di saat ini. Namun keadilan bukan hanya horizontal bagi sesama kita saat ini, namun juga untuk manusia-manusia masa depan. Dan keadilan bukan sekadar kepada manusia, namun juga kepada alam dan isinya. Kalau begitu, apa mengeksploitasi segalanya saat ini sudah cukup adil bagi alam serta manusia-manusia yang akan datang?
Mungkin banyak orang tidak akan menyadari dan tidak akan berbuat apapun sampai kedua kutub benar-benar mencair, karena itulah harus ada yang mengingatkan mereka. There’s no finish line. You always need a lifetime!
Posted at 01:10 am by jeng sueb
permalink
Monday, August 09, 2010
Ke-putih-an dan ke-eksotis-an: Proses Pengobjekan Diri serta Peliyanan yang Ganjil
Lebih dari sepuluh tahun lalu saya sampai di Palembang untuk menyerahkan masa remaja saya. kelas-kelas SMP dan SMA saya jalani di kota tersebut, yang berarti terhitung enam tahun kesempatan kultur kota Palembang untuk lindap di kepala saya. Tak bisa dihitung benar atau salahnya, (karena terkadang nilai-nilai bisa menjadi sangat relatif, pada suatu masa ia terhitung salah namun pada masa lain ia dapat terhitung benar) hanya saja kejadian kemarin membuat saya memanggil memori atas nilai-nilai ke-putih-an di kota ini (yang mungkin juga berlaku di banyak kota di seluruh dunia).
Setelah bertahun-tahun, dua hari yang lalu, saya menginjakkan diri di kota ini lagi. Dan seperti biasa, kalimat pembuka dari lingkungan sekitar saya di Palembang adalah melulu persoalan tampilan fisik: semakin putih atau coklat, dan persolana gemuk-kurus.
Dan persoalan ke-putih-an ini, tidaklah menjadi persoalan yang didominasi oleh perempuan. Kira-kira ini yang diucapkan adik laki-laki saya kemarin sore:
"Yuk, jingokla Adhy ni, cubo men adi putihan dikit, terus rambut Adhy dak keriting mak ini, pasti kelepek kelepek betino tu samo Adhy, paling dak duo apo tigo betino laa…"
(Kak, lihat Adhy, kalau Adhy sedikit lebih putih dan rambut Adhy nggak keriting begini, pasti banyak perempuan yang tergila-gila sama Adhy. Minimal dua atau tiga orang)
————————————————–
Saya dibesarkan di komunitas seperti itu. Di mana putih adalah nilai tertinggi bagi warna kulit. Dan perempuan muda (seperti saya dulu) berlomba menjadi putih (tulisan ini menjadi sangat bersudut perempuan secara norma dan nilai karena saya belum pernah mengalami menjadi laki-laki secara kelamin dan norma juga nilai sosial). Maka datanglah ke Palembang, akan anda temui ratusan perempuan putih, baik alami maupun buatan, berkat bedak atau krim pemutih, entah krim dokter atau krim dengan merkuri yang dijual di pasar tradisional. Yang pasti, hampir semuanya putih.
Kulit saya tak pernah bisa putih seperti kulit teman-teman saya yang Tionghoa ataupun yang blasteran Eropa maupun Amerika, bahkan juga tak seputih teman-teman saya di masa SMP-SMA. Saya menikmati pantai dan sinar matahari, bersepeda adalah kegiata rutin saya dulu, yang kini diganti dengan berenang outdoor atau latihan tennis yang juga outdoor sesekali. Maka kulit saya pun semakin coklat saja pada setiap masanya. Sedangkan teman-teman saya di Palembang menjadi semakin putih (Di Palembang, seperti kota-kota lain, akses untuk berkulit putih memang diperluas dengan menjamurnya dokter maupun klinik kecantikan).
Dengan kepemilikan warna kulit yang semacam itu, saya tumbuh menjadi remaja yang sedikit frustasi dengan warna kulit dan kecantikan yang jauh dari jenis kecantikan televisi. Saya ingat betul ketika SMP-SMA saya menyisihkan uang jajan karena iklan Pond's menjanjikan kulit putih yang digilai semua orang. Entah sejak kapan kulit putih pun berasosiasi dengan cantik dan dicintai banyak orang. Hal yang kala itu membuat saya berpegang teguh pada keyakinan bahwa saya hanya menjadi cantik kalau saya menjadi putih.
Kenapa putih menjadi begitu penting? Kenapa?
Teori besar dari pemikir besar mungkin akan berkata bahwa inilah sisa-sisa kolonialisme, bahwa si kulit putih selalu berada pada tingkat tertinggi. Dan seperti kata pemikir yang seksis, alih-alih memerdekakan diri, seperti kaum laki-laki, kaum perempuan yang penurut lebih suka memutihkan diri, beradaptasi dengan nilai-nilai semacam itu.
Sebelum merujuk pada putihnya kakukasoid, beberapa kelompok etnis di Indonesia memang memiliki kulit yang cenderung lebih putih dari pada etnis lainnya. Misalnya saja suku sunda, ataupun Palembang, memang memiliki kulit yang cenderung lebih putih, atau disebut juga kuning langsat. Dan dengan demikian secara pribadi pemilik kulit putih pun menjadi lebih cantik dari pada pemilik kulit berwarna lain selain yang cenderung lebih putih. Entah karena memang ada sejarah soal warna kulit dan kekuasaan di Indonesia yang tidak saya tahu, atau hanya karena kulit mereka dianggap mendekati kaukasoid.
Mungkin memang benar bahwa ini adalah implan dari kolonialisme, sehingga teller bank dan petugas marketing selalu memiliki jenis kecantikan televisi yang salah satunya dihitung dari warna kulit. Namun saya ingin menyunat pemikiran itu sampai ke level pribadi: secara personal, mengapa putih menjadi penting?
Apa karena nilai-nilai dalam masyarakat lebih menyukai perempuan yang putih dan cantik? Bahwa perempuan yang putih dan cantik menjadi objek tatapan yang lebih menarik? Ya, bisa saja ditarik lagi ke soal sisa-sisa kolonialisme, maka norma serta nilai sudah terbentuk bahwa menjadi cantik dan putih adalah yang menarik. Begitu? Tapi, mengapa menjadi penting untuk menjadi objek tatapan yang menarik?
Saya selalu menolak peng-objek-an terhadap manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Karena bagi saya semua orang berhak menjadi subjek, berhak dihargai pemikiran serta pendapatnya. Maka semua manusia adalah subjek. Bahkan juga seorang bayi. Bayi bisa menangis jika ia tak suka ditatap oleh orang dewasa tertentu dangan cara tertentu. Itu adalah bentuk pendapat dari si bayi. Maka kita juga harus menghargai itu, bukan?
Lalu, jika seseorang menjadi sebegitu berharapnya menjadi cantik dan ditatap dalam nilai yang menyatakan dia cantik, dengan demikian, apakah ia kemudian menikmati menjadi objek? Apakah ia menikmati bahwa orang lain menikmati menatap dirinya tanpa ia sendiri mengetahuinya? Tidakkah itu menjadi semacam tindakan voyerisme yang dilegalkan oleh nilai dan norma?
Merujuk pada klaim adik saya, maka bisa saja dikatan bahwa selama ini laki-laki juga senang menjadi objek tatapan. Apakah berarti mereka juga sedang dalam proses pembiaran terhadap voyerisme oleh nilai dan norma tersebut (kalau memang hal itu bisa dikatakan sebagai voyerisme)?
Kalau begitu, apakah saya salah kalau mengharap semua orang harus dijadikan subjek? Apakah seperti di iklan Pond's, beberapa manusia suka jika tubuhnya dijadikan objek? Bahkan beberapa iklan jelas-jelas menunjukan voyerisme, tatapan laki-laki jelas-jelas diperlihatkan sedang menikmati kulit perempuan—yang putih—secara diam-diam tanpa diketahui objek yang ditatapnya. Seperti kata Anthonny Synnot dalam Social Body, bahwa pada masa tertentu para istri adalah burung-burung yang berbulu indah. Sehingga para istri adalah objek tatapan suami dan teman-teman (lelaki) suaminya.
Atau, haruskan saya memisahkan dimensi tubuh dan pikiran. Sehingga secara tubuh, beberapa orang (memang) menyukai menjadi objek, namun secara pikiran ia harus disubjekan? Hal ini bisa menjawab mengapa perempuan yang memutihkan diri tersebut suka menjadi objek tatapan namun marah (atau pura-pura marah?) jika digoda, termasuk disiuli. Karena mereka suka menjadi objek tatapan, namun pemikiran mereka yang menyatakan bahwa menyiuli perempuan dipinggir jalan adalah pelecehan seksual tetap harus diperhitungkan. Begitukah? Entahlah, saya belum melakukan riset mendalam.
Ah, persoalan orang-orang yang mati-matian menjadi putih ini sungguh membingungkan saya. Namun, itu baru satu hal. Setidaknya masih satu hal lagi yang kemudian tumbuh dan menjadi aneh soal kulit putih maupun coklat ini: ke-eksotis-an.
Kulit berwarna coklat tembaga diakui sebagai suatu jenis kecantikan yang lain lagi. Kecantikan yang eksotis. Eksotis dalam kamus bahasa Indonesia adalah sesuatu yang aneh dan ganjil, sesuatu yang tidak biasa, dan diluar nilai serta norma. Maka penyebutan eksotis adalah suatu proses peliyanan.
Kalau kulit tembaga saya dikatakan eksotis, maka saya dikatakan sebagai liyan. Jika hal itu diucapkan oleh teman-teman saya yang berasal dari Eropa, saya bisa mengerti bahwa saya memang diluar nilai-nilai dan norma bahwa manusia adalah berkulit putih di suatu benua berjarak 12 jam dengan pesawat dari Indonesia.
Namun penyebutan eksotis pada kulit tembaga oleh orang Indonesia adalah sesuatu yang sungguh ganjil bagi saya. Liyan dari apa? Bukankah kulit Indonesia memang tidaklah putih seperti kebanyakan kaukasoid? Lalu, saya, kami, menjadi liyan dari siapa? Dari sesama kulit tembaga lainnya?
Aquarini Priyatna Prabasmoro dalam salah satu bukunya (yang saya tak ingat judulnya) pernah menuliskan dalam urutan hierarkis ras, sebagai sisa kolonialisme, kulit putih adalah norma. Kalau begitu, jangan-jangan norma teman-teman saya itu adalah kulit putih. Maka yang dilakukan oleh teman-teman saya yang sesama kulit coklat tembaga itu adalah meliyankan saya dari norma kulit putih.
Dulu saya pikir norma ke-putih-an ras kulit putih itu hanya berlaku di televisi dan kertas mengilap dengan label nama-nama tertentu yang menunjukan kelas pembacanya. Di media massa tersebut ke-putih-an dapat saja menjadi norma karena memang model yang berpose untuk ditatap oleh pembacanya melulu berkulit putih. Maka kulit putih adalah norma (yang sebenarnya juga ganjil untuk majalah yang ditujukan bagi perempuan Indonesia yang banyak berkulit coklat asia).
Lalu, kalau begitu, di mana kulit coklat asia kami bisa memiliki nilai dan norma-norma nya sendiri, dan bisa mengatakan bahwa yang eksotik adalah kulit yang berbeda dengan kulit coklat kami? Bahwa di Indonesia yang liyan adalan kulit putih?
(Saya tak bermaksud rasis dan menggolong-golongkan warna kulit. Bagi saya, pada zaman yang borderless ini, manusia sekarang adalah warga dunia. Seharusnya tak dibedakan dengan cara banal macam warna kulit. Namun saya tetap saja tergelitik atas peng-eksotis-an kulit coklat oleh sesama kulit coklat yang berarti meliyankan saya dari orang Indonesia pada umumnya. Padahal toh jelas-jelas mereka juga adalah orang Indonesia yang juga berkulit cokelat.)
Posted at 01:04 am by jeng sueb
permalink
Thursday, August 05, 2010
Jam sembilan pagi, aku baru bangun dari tidurku. Ada yang lindap dalam darah, entah alkohol yang kuminum semalam, entah jilat liar di dadaku.
Entahlah… yang pasti kepalaku terasa lebih ringan sekarang. Setidaknya tak ada kamu di dalamnya. Rasanya seperti melongok perigi di halaman belakang: gelap dan sepi. Hanya ada sedikit gelombang aneh tak menentu, kadang lunak, kadang terasa menusuk.
Strawberry caramel dan sedikit rhum mengundang siapa saja untuk tak menahan diri. Ditambah botol-botol vodka yang kuminum tanpa gelas, setiap kemabukan membuatku menyingkirkan apa saja tentang mu dari jangkauku.
Tiap tetes vodka meluruhkan imaji memorri akan hangatmu. Bahkan juga bekas kecupmu di dadaku yang kita abadikan bersama lewat rajah mawar merah. Sekilas mawar itu lenyap, layu barangkali, atau mungkin ada yang memetiknya dari dadaku.
Masih jam sembilan pagi. Matahari masih belum menyentuh dinding kamar. Kalah oleh gemuruh hujan. Hujan yang membuatku ingat pada binar matamu. Hujan yang membuatku melupakanmu.
Jendela masih rapat. Pintu masih terkunci. Tak ada secuil sinar yang sanggup menyingkirkan bau mu dari kamar ini. Bahkan bau alkohol saja tidak, apalagi bau hujan.
Jam sembilan pagi. Sepertinya dunia di luar sana mati. Tak ada setitik pagi. Yang ada hanya sketsa tinta merah serupa goresan tak berbentuk pada kertas berserak. Barangkali semalam aku membuatnya, ketika mabuk melanda dan perlahan kulupakan juga tetek bengek soal dirimu. Yakinlah, karena tak sedikitpun kertas itu memiliki hubungan denganmu.
Ah… tadi malam tak sempat kulihat bintang.
Namun sempat kumelihat serial imaji yang diperbincangkan seluruh dunia. Kekonyolan lain dari kotak bernama televisi. Apalagi kalau bukan cinta yang dijadikan komoditi.
Juga semalam sempat kutelanjangi diri sebelum benar-benar di ambang kemabukan. Awalnya hanya ingin merasakan aliran air dalam genggan jari. Namun kumandi juga dengannya. Entah apa bisa disebut mandi jika yang kulakukan hanyalah berdiri di bawah pancur air. Lima belas menit mungkin. Menikmati setiap alirnya di sela rambut masai ku.
Jam sembilan pagi. Dari mana sebenarnya hitungan pagi? Dari tepatnya kedua jarum berebut menindih angka dua belas? Dari kokok parau ayam jantan tetangga di kampung? Atau dari rayap sinar jingga di sudut kota? Entahlah, mungkin sepagi ini seharusnya aku tak peduli pada hitungan pagi.
Jam sembilan pagi. Aroma alkohol masih kental di kamar ini, seperti sisa kecupmu di sini.
Posted at 01:01 am by jeng sueb
permalink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
jeng suebI'm high, and colorful, just like a rainbow
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |