you just steped forward to the world's stooooopid spot!!


HOME


Tuesday, February 02, 2010
aku mau di sini saja

ia melangkah ke lautan yang telanjang
udara yang telanjang
pasir yang telanjang
karang yang telanjang
tanpa peduli apa yang menyebabkan ia melangkah
ia melangkah pada semua yang telanjang itu
ia ingin bersetubuhan dengan semua yang telanjang itu

dan angin pun datang
memanggil ke lautan yang telanjang
yang baunya seperti bau rahim saat ia dihamilkan
rahim yg sangat ia kenal, tempat paru paru bertumbuh dalam dirinya

dan ia merasa tak sia sia ada
seperti ada yang menunggunya dengan asbak, sekotak rokok, dan korek api
mengajaknya menulis dalam ketelanjangan, soal sajak yang tak pernah usang

(adaptasi dari sajak-sajak hasan aspahani)




Tuesday, January 26, 2010
noise dari hati, bukan lingkungan

paling sulit berhubungan dengan orang lain adalah saling menjaga perasaan masing-masing. hal ini menjadi semakin sulit dengan keadaan manusia yang beda-beda. sayangnya ga semua manusia sadar bahwa manusia lain ga bisa baca pikiran dan ga bisa mendengar isi hati orang lain. jadi, untuk orang-orang yang ga mau jujur di depan inilah yang paling sulit. they can give u a big smile and a huge hug, but they gonna backstabb you guys!

hal inilah yang masih sulit aku mengerti sampai sekarang. i thought that's why we have mouth. to tell what u thinking off, and what u feel. to inform somebody else. isn't it? terlebih sekarang ada banyak alat perpanjangan mulut: handphone, internet, you mention those guys... so, why don't you use those equipments?

jadi, buat orang-orang seperti aku, orang-orang yg suka ngomong di belakang dan ga mau ngomongin unek-uneknya langsung di hadapan ku ini, sangat menyusahkan. hey... what u expect from me? reading somebody's mind and exactly know how (also why) u hate me when u give me the warm hug? i'm not that sensitive guys!

jadi, agaknya, dari kemampuan interpersonal yang tidak terlalu baik, dan dari banyak pola pikir yang berbeda serta segala kesalahpahaman yg mungkin terjadi inilah pada akhirnya beberapa profesi harus berterima kasih. lemme say... PR, Lawyer, advertising agency, atauuu biro kampanye mungkin?

rupanya hubungan interpersonal membuat kisruh juga yaaa... beberapa orang harus membayar juru-juru bicara, beberapa orang lagi, harus membayar agensi humas mahal untuk bisa berhubungan baik dengan masyarakat. (well, maybe i need one, who know? ;) ) jadi, hubungan interpersonal ini apa?

ah... aku mempelajari ada komunikan, komunikator, pesan, medium dan noise. sorry to say, i'm not good in theory. hanya saja bagiku batasan komunikator dan komunikan ga terlalu penting. toh ketika kita mengobrol, serta merta keduanya jadi komunikan dan komunikator (please correct me if I'm wrong), toh mereka saling bertukar informasi (dalam semiotik mereka dipermudah dengan sebutan pembaca-the reader). cuma masalahnya bukan hanya soal noise fisik dari lingkungan (yang aku pelajari waktu kuliah, salah satunya bisa berupa berisik di lingkungan hingga menimbulkan distorsi makna). coba, lingkungan mendukung, tapi sayangnya pembicaraan keduanya itu basa basi busuk. masing-masing tidak mau berbicara apa adanya. berharap si lawan bicara sadar dengan sendirinya atas ketidaksukaan mereka. yeah... gimana caranya?

lebih dari itu guys, noise yg paling mengganggu adalah noise dari hati masing-masing! noise dari hati yg kumaksud juga bisa dari soal nilai-nilai yang berbeda, kultur yang berbeda, sehingga membuat pembongkaran makna pesan jadi sama berbeda bagi masing-masing orang.

nah... itu dia masalahnya. tau dong, dengan ucapan explicit aja orang bisa ada distorsi makna, apalagi kalau aku diminta melihat tanda-tanda gerakan fisik, atau mimik wajah, misalnya. guys, manusia dengan latar belakang budaya yang sama saja bisa salah paham (you know, ade-kk yang 20 tahun hidup bersama aja bisa salah tangkep makna), apalagi kita yang ga se-emak se-bapak dan berbeda tanah kelahiran.

jadi, mengapa tidak menggunakan cara yang paling mudah untuk berbicara? ini juga ya sulitnya multikultur. bagi ku mudah, belum tentu juga bagi orang lain. bagiku berbicara secara explicit itu yang paling mudah, tapi bisa jadi berbicara explicit itu menjadi bagian yang paling kasar untuk suku lain.

jadi, pikiran ku ini juga memang bukan yang paling benar. orang lain bisa saja tidak terima dan gerah dengan kelakuaknku yang aku anggap biasa-biasa aja. tapi ga okei juga kalau kemudian ada ribut-ribut antar suku antar agama cuma urusan kesulitan penemuan makna yg sama. apalagi dengan alasan, tuahan melaknat suatu kaum. jangan sampe bawa-bawa tuhan ah. kalau tuhan mau, dia bisa bikin manusia jadi satu suku dan saling langsung mengerti hanya dengan kedipan mata. (lah... iki areppe piye ta? kok malah nggowo-nggowo tuhan)

yah... pokoknya begitulah PR muncul.
hehehhe... sotoy.
aku ga tau ding PR munculnya gimana. tapi mungkin si perusahaan ga mungkin berbicara jujur pada masyarakat, jadi dia pake sistem "u know lah what i mean" lalu minta PR membungkusnya dengan ciamik. mengurusi citranya, dan mengurusi penyampaian pesannya. so, it would be easier for them (to make the society "understand" with less disagreement). atau kalau akhirnya proses komunikasi itu gagal, maka yah... giliran si profesi pengacara itu yang turun tangan.

hahahaha... note kali ini emang sampah banget.
anyway, ini catatan ketika pengen menulis tapi ga tau mau menulis apa. so i'm just talking crap :D




Monday, January 25, 2010
catatan menonton avatar

pertama kali menonton avatar, yang menjadi high light dalam benakku adalah soal politik tambang. gambaran keserakahan menggali unubtonium (atau apa itu namanya aku lupa) di Pandora, sama persis seperti penggalian emas oleh PT Freeport. di mana gunung bisa menjadi lembah. dan itu menyedihkan sekali. manusia seolah melegitimasi kalau alam serta kehidupan lain di luar mereka hanyalah sekadar alat pemenuhan hasrat dan eksistensi manusia itu sendiri. betapa manusia lupa kalau manusia itu hanya bagian kecil dari siklus alam, siklus kehidupan. berkebalikan dengan Na'Vi yang selalu ingat bahwa mereka adalah bagian dari siklus kehidupan. "kekuatan hanyalah dipinjamkan oleh alam, maka kekuatan itu harus dikembalikan suatu saat nanti" ungkap Neytiri mengenai kematian.

jadi, aku pikir, seratus buat james cameron untuk pesannya yg satu ini. sampai sekarang aku sungguh-sungguh berfikir kalau yang namanya kiamat itu sendiri adalah kerusakan lingkungan yang sangat parah hingga tak bisa ditanggung oleh bumi lagi. dengan demikian, bumi harus memuntahkan segala isinya. bumi harus mematikan manusia di dalamnya, agar ia bisa memperbaiki dirinya lagi. dan yang namanya dajjal itu mungkin juga tidak harfiah berbentuk manusia. jangan-jangan dajjal itu adalah corporate-corporate yang merusak alam, memecah belah manusia, membalik yang benar dan yang salah. well... siapa tahu...

anyway... aku ga mau berpanjang lebar di persoalan kiamat dan dajjal. juga politik tambang. sorry to say, but i must say this, film ini Hollywood banget (but still great, film keren untuk menutup 2009). kenapa film ini Hollywood banget?

1. Militer selalu menang, jika militer kalah, kembalilah ke pernyataan pertama.
seorang teman pernah berkata bahwa di film Hollywood, entah tentara atau bukan, tapi Yahudi selalu menang. unfortunately i don't know the nationality of Jake Sully, but he's a veteran. as he said: "You can be a veteran, but you will never really out of the military, there's no ex militer, you will always have the attitude." so... walaupun militer bumi ga menang, tapi Sully, sebagai militer, dan sebagai pemimpin peperanganlah yang memenangkan pertempuran ini. meski dengan bantuan Eywa, namun Jake Sully adalah pemenangnya. The one and only. tak ada adegan di mana Jake Sully dibantu dalam melawan musuh dalam peperangan terakhirnya. Tsu'Tey, Moat dan Eytukan harus meninggal dalam pertempuran, dan Neytiri terbantu oleh penghuni hutan yang diutus oleh Eywa. sedangkan Jake Sully selalu memenangkan setiap pertempuran. meski di awal ia terbantu oleh kedatangan Neytiri, tapi tetap saja ia berhasil membunuh hewan-hewan yang menyerangnya. so, millitary alwas win. meski ada adegan di mana Neytiri berhasil menghalangi sang Kolonel untuk menghancurkan Jake Sully dalam tubuh manusianya. namun, itu Jake Sully yang sedang tidak sadar. lagi pula toh Jake Sully menyelamatkan Neytiri kemudian. jika Neytiri menyelamatkan Jake Sully dari tubuh manusia yang kehabisan nafas, toh Sully juga menyelamatkan Omaticaya, bahkan Pandora. jadi impas bukan?

2. Patriarki.
ini yang selalu ada hampir di setiap film Hollywood. dan kentara banget di film ini. usai upacara sebagai orang dewasa, hal utama yang disampaikan oleh Neytiri adalah: "sekarang kamu sudah menjadi bagian dari Omaticaya. dan kamu boleh memilih perempuan-perempuan dari suku kami. we have many fine woman in Omaticaya". well, is it fine women just like some fine wine? I was born as a human being, not as a girl or a boy. this sentence is pissing me off! mereka fikir perempuan adalah komoditas yang bisa dipilih-pilih? apakah perempuan tidak punay hak yang sama dengan laki-laki sehingga hanya bisa dipilih! meski Jake Sully berkata bahwa "I have chose a woman, but this woman should chose me too". bagiku itu tak ada artinya karena ucapan Neytiri menyatakan kelaziman yang ada adalah bahwa yang berpenis harus memilih yang bervagina. itukah yang ada dipikiran James Cameron dan orang-orang besar di Hollywood sana? perempuan sebagai komoditas? Damn!

3. the winner is the one who last laugh, and they will always win.
there's no sad ending. seperti Ultraman yang selalu bangun di saat terakhir karena teringat cinta orang-orang di sekitarnya, maka begitu juga dengan Avatar. selalu ada keajaiban. sebelumnya tak pernah di singgung bahwa Na'Vi terdiri dari banyak suku. namun begitu kepepet, tiba-tiba, dengan cinta Neytiri, Jake Sully bisa bangkit, mengejar Last Shadow (aku lupa last shadow dalam bahasa Na'Vi itu apa?) dan menjadi penungguang last Shadow, lalu mengumpulkan ribuan Na'Vi dari banyak suku yang ada di Pandora. well yeah, they almost lose, but the love of Eywa won't let them lose. yeah, the will never lose buddy!

4. the hero always great in public speaking, and they will become more great with the power of love.
apa kehebatan Jake Sully yang paling hebat? MOTIVASI read my lips HE"S A GOOD MOTIVATOR. saat hampir kalah, ia menjadi penunggang last shadow dan berhasil membakar semangat masyarakat Omaticaya. begitu juga ketika ia berbicara dengan Eywa melalui pohon arwah... hey, they always good in talking. bahkan si Colonel Miles Quaritch pun sempat-sempatnya berpidato ketika tarung-tarungan dengan Jake Sully. inget banget dia bilang: "do you want to betray you're own race?"... well, they're all good in speaking, and braind washing. maybe that thing is the thing which make USA as good as nowadays...

well guys, boleh ditambah lagi untuk nomor 5 dan seterusnya...

nb. sangat menyayangkan orang-orang tua mengajak anaknya yang umurnya di bawah level remaja (rate film ini remaja. berarti lebih dari 13 tahun la ya...) untuk menonton film ini. kenapa ya mereka ga cari tau dulu film ini kayak apa. di sebelahku kemarin dulu adalah anak sekitar kelas 3 SD. haddooohhh dia nonton adegan ciuman dan adegan bunuh-bunuhan dong...




Sunday, January 03, 2010
for my dear society...

Dear Society,

Tubuh. Perempuan. Membayangkan sesuatu atas keduanya?

Aliran darah, keratan daging yang melekat pada rangka yang digerakan urat? Seorang Channel Iman? Sebentuk bokong, payudara, bibir? Bokong Jennifer Lopez, payudara Dolly Parton, bibir Angelina Jolie? Maria Ozawa yang diproduseri ayahnya dan terkenal sebagai produk pornografi dengan label Miyabi? Sedot lemak dan bedah plastik berharap tubuh “ideal” selayak Barbie atau mannequin? Anorexia yang telah berkontribusi atas 0,56% kematian tubuh-tubuh (yang hampir seluruhnya) perempuan di Amerika?

Kesucian Perawan Maria yang absolut hingga kematiannya? Pergulatan batin manusia layaknya Frankenstein yang bertanya milik siapakah dirinya, tubuhnya? Pangkal dari segala kekotorankah ia hingga kelahirannya harus disertai dengan kematian, pembunuhan atas tubuhnya? Sekadar tanah yang kan  kembali ke kodratnya, dikubur hanya dengan selembar kain, ditutupi tanah, atau justru sangat suci dan berharga hingga harus diaben dengan biaya berpuluh juta, dimumi, dibuatkan Piramida atau dibangunkan Taj Mahal nan megah?

Kuasa mana yang boleh mendominasi tubuh, perempuan, tubuh perempuan? Negara? Agama? Mengapa seseorang tak diberi hak untuk menolak hidup dalam tubuh sakitnya? Mengapa euthanasia dianggap sama dengan bunuh diri, atau membunuh? Jika tubuh itu adalah tubuh janin, siapa yang berkuasa atas janin tersebut? Si Ibu, Ayah, Agama, Negara? Mengapa perempuan tak diberi kebebasan untuk menolak benda asing dalam rahimnya melalui penghentian kehamilan?

Kemarin dulu negara muncul dengan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi yang mengusung tubuh manusia sebagai bahasan utama. Melindungi perempuan dan anak-anak, katanya, tubuh sosial harus diatur agar tak memicu degradasi moral. Mengingatkanku pada Eropa abad pertengahan yang memenjara Sade karena menulis dengan erotis. Meski sudah sah, banyak juga yang terus menolak, tubuh adalah arena privat yang tak boleh didominasi oleh kekuasaan manapun kata mereka yang kontra. Busukkah tubuh sosial hingga harus ditahan-tahan keberadaannya?

Lokus agama tak mau kalah. Tubuh begitu dijaga keberadaannya, ditutupi sebegitu rapat, dibuat lapar, disiksa agar kesucian jiwa dapat menyelimuti tubuh yang kotor. Asketisme menuntut penyangkalan atas tubuh. Pandangan harus dijaga dari tubuh-tubuh seronok karena akan merusak jiwa di dalam tubuh. Kebutuhan seksual dinegasikan, persetubuhan menjadi dosa. Burukkah tubuh, mengganggu jiwakah ia?

 

My Dear Society,

Lalu, kenapa harus ada selaput dara, benda tipis beberapa mili pembawa bencana, yang bisa saja robek terkena jok sepeda? Dari semua bagian tubuh perempuan, benda satu itu justru menjadi begitu dipuja—sampai orang-orang tua selalu berpetuah agar selaput dara harus di jaga—harga diri kata mereka. Lagi pula mengapa selaput dara harus ada di perempuan, bukan hanya secara fisik, tapi kemudian juga menjadi konsepsi kesucian dan disimbolkan dalam cadar pengantin? Mengapa tidak laki-laki saja yang mengenakan cadar ketika menikah, untuk menunjukan bahwa mereka (para laki-laki itu) juga masih perjaka? Lalu, sesudah cadar itu dibuka, panggilan pun berubah. Nona, Nyonya, Miss, Misses. Mengapa lelaki tetap Tuan dan Mister?

Ah, membicarakan perempuan memang tak berkesudahan. Tubuhnya, wajahnya, cara berjalannya, tertawanya, hidupnya, matinya, tak pernah habis dibincangkan.

Kemarin dulu aku ke dokter di ujung jalan itu. seorang yang terkenal. Tak mungkin aku salah melihat kata Profesor di awal namanya. apa dengan kata professor itu ia jadi berhak mencampuri kuasa atas tubuhku? Tubuhku kotor katanya. Dan si dokter menolak memberiku perolongan. Menurutnya penyakit itu persoalan holistic, moral ku harus diperbaiki terlebih dahulu. Percuma jika aku ditolong tapi moralku tidaklah baik. Sebenarnya yang baik itu yang seperti apa? Mengapa tak ada yang mengajarkannya secara menyeluruh padaku—holistic kalau meminjam kata si professor terkenal itu)

Beberapa tahun lalu, juga temanku harus ditolong dokter lainnya—untung bukan si professor itu. ia kurang makan, anorexia kata majalah yang pernah kubaca. Tak banyak aku dengar laki-laki yang anoreksia, meski juga ada. Melulu perempuan. Aku membayangkan betapa sulitnya hidup jadi Britney atau artis muda masa kini. Sesudah melahirkan, publik mengecam ia terlalu gemuk, setelah diet malah menjadi terlalu kurus. Menjadi gemuk memang bukan dosa. Hanya saja, bukankah kurus, cantik, putih dan berambut panjang adalah jalan tol bagi perempuan? Seorang teman yang cantik, jadi lebih mudah diterima ketika masuk ke lingkungan baru. seolah jelek itu berbanding lurus dengan jahat dan orang cantik itu malaikat yang menyamar. Tak heran jika kemudian banyak perempuan yang memilih mati dari pada hidup jadi perempuan “jelek”. Ah… menjadi jelek saja sudah dosa sosial, bagaimana dengan menjadi difabel? Dosakah mereka?

My Very dear Society,

Aku kah yang salah? Perempuan kah yang salah? Mungkin ini retoris, but i’m here, standing still, waiting for a reason.

 

 

xxx,

 

Aku Perempuan




Sunday, November 15, 2009
YES, I'm an activist!

baru-baru ini 33 orang aktivis green peace ditahan di Riau akibat aksinya. satu hal yang mungkin dilupa para aktivis ini: masyarakat di pelosok riau sana, mungkin belum pernah mendengar soal global warming. greenpeace harusnya ingat tingkat literasi masyarakat indonesia. jangankan ngomongin global warming, cara membaca global warming dengan cara keinggrisan saja mereka tidak bisa. mana tahu mereka pentingnya hutan yg setiap hari memberi makan buat mereka. yang mereka tahu, kalau alat berat disegel, maka mereka tidak dapat bekerja, dan anak-istri harus puasa beberapa hari. ironi.

ada satu hal yg selalu jadi kata ajaibnya campaign: think global, act local!
mungkin ini yg dilupa PR nya greenpeace.

ketika mengetahui produknya bermasalah, salah satu perusahaan serta merta menarik produknya dari pasaran amerika. dan kebijakan ekstrim ini justru baik bagi bisnis. konsumen percaya pada kesungguhan si perusahaan atas kualitas barangnya. namun ketika kebijakan yg sama dilakukan di malaysia, maka perusahaan tersebut terancam bangkrut. ada nilai-nilai yg membuat suatu campaign tidak bisa di copy paste begitu saja.

namun satu hal yag disayangkan dari "penegak hukum" (oh... rasanya gatal-gatal setelah mengetik frasa itu) di Indonesia. 22 aktivis greenpeace resmi menjadi tersangka, kata media online hari ini.

aktivis itu layaknya nabi. dan nabi itu menurutku aktivis-aktivis pertama. aktivis tercanggih di zamannya. pembawa perubahan sosial-budaya masyarakat. kesulitan ibrahim hingga muhammad adalah mengubah budaya ribuan tahun suku badui yang biasa menyembah berhala. mengubah kebiasaan merendahkan perempuan (sungguh, kalau ada orang islam, yang teriak ALLAHUAKBAR paling kenceng dan dia bilang perempuan harus di bawah laki-laki, Muhammad pasti gelisah di sana). serta melakukan gerakan-gerakan progresif lain di zamannya.

jika Muhammad tiba-tiba datang di abad 20 ini dengan konsep Tuhannya, mungkin masyarakat juga akan tertawa, seperti tertawanya masyarakat suku badui. seperti tertawanya abu jahal dan abu lahab. dan itu juga yang terjadi pada Harvey Milk, aktivis gay San Fransisco yang berulang kali terancam dibunuh karena semangatnya melakukan trasformasi sosial, sampai akhirnya benar-benar terbunuh.

campaign yang dilakukan Muhammad melalui berdagang terbukti berhasil. mungkin kalau melalui tahapan campaign, campaign a la muhammad sudah melewati 3 fase awal. dan belum menemukan fase di mana sebuah merk menjadi mati. penguasaan Islam atas banyak negara lain yang tadinya belum islam, tidak dengan mencampuri urusan kenegaraan. islam masuk melalui jalur sosial dan budaya. sehingga hal tersebut menguat. pemimpin boleh berganti, namun agama tetap islam. berbeda dengan penguasaan agama di tanah jawa. pergantian hindu-budha-islam-kristen,
amat bergantung pada para pemimpin mereka. namun seperti juga dengan campaign lain-lainnya, cara-cara muhammad, tidak bisa ci copy paste seenak jidat ke masyarakat lain. memangnya suku badui di arab punya nilai yg sama dengan suku badui di jawa barat?

kembali ke soal aktivis-aktivis pertama. mereka (para nabi dan rasul) memiliki seperangkat ideologi yang mati-matian diperjuangkan. mereka memiliki sekarung penuh keyakinan mengenai ideologi mereka. dan mereka maju tak gentar dengan ideologi mereka. tak peduli berapa kali ancaman pembunuhan atas muhammad, munir, yesus, maupun annita roddick, tak ada satupun ancaman tersebut yg membuat mereka berhenti hingga nafas terakhirnya.

dan yang terjadi masih sama sejak dulu hingga sekarang. para aktivis tersebut kemudian dikriminalisasi oleh para "pembengkok hukum" (hahhah... lebih pas dari pada "penegak hukum"). Muhammad diburu oleh pemimpin sukunya untuk dibunuh karena dianggap membawa ajaran sesat (tiba-tiba kok ingat kelompok Ahmadiyah ya...), Munir, ya dimunirkan di atas Garuda, Yesus teraniaya di tiang salib yang diseretnya puluhan kilo.

agaknya hidup itu paling susah jadi orang progresif. jadi orang yang lebih maju dari jamannya, seperti muhammad yang ditolak kaumnya. atau yesus yang dipancang di tiang salib. pengetahuan jadi beban tersendiri buat mereka. mereka yang tahu lebih dulu dan terusik atas ketahuannya itu. tidakkah terpikirkan kalau kadang-kadang rasanya lebih baik jadi orang yg tidak tahu apa-apa? hidup jadi lebih damai. tidak tahu kalau ada ribut-ribut di luar.

(yes, I'm an activist adalah tagline yg sering duganakan annita roddick)




Thursday, November 12, 2009
pandora hingga vagina dentata

"vagina dentata"
have u ever heard this term before?
ceritanya di indonesia emang ga kenceng ya. jadi mungkin teman-teman juga belum pernah dengar.
so, i would like to present: vagina dentata a.k.a vagina bergigi.
di eropa atau amerika sana dipercaya bahwa geligi dapat bertumbuh di vagina. dan kabar burung juga mengatakan banyak perempuan di luar sana yg mengidap sindrom vagina dentata.
memang hanya mitos (walau beberapa tulisan tidak valid di internet menyebutkan bahwa bisa pula semacam gigi bertumbuh di tumor yang ada di vagina), dan yang saya percaya sih memang hanya mitos. namun mitos ini sangatlah tidak adil.

mitos ini berkembang dengan semakin tingginya angka seks bebas serta pemerkosaan terhadap perempuan. jadi, dengan mempercayai adanya vagina bergigi--yang tidak dapat dikendalikan selera menggigitnya--diharapkan para laki-laki tidak sembarang "main perempuan" (sial kenapa tidak ada terminologi "main laki-laki"?), juga diharapkan tidak lagi banyak perempuan yg diperkosa. soalnya salah-salah bisa-bisa perempuan yang mau diperkosa itu punya geligi di vaginanya. laki-laki juga ga mau kan penisnya habis...

tapi, kenapa vagina bergigi? kenapa tidak dimitoskan: kalau kamu memperkosa maka penis mu akan tumbuh kuping seperti kuping gajah, dan kuping itu kaku sehingga kalau kamu pake celana maka kamu akan seperti mengenakan bando mickey mouse di penis?
atau kalau kamu suka berganti pasangan maka pantatmu akan memanjang seperti hidung pinokio (jadi seperti punya penis depan belakang), dan pantat memanjangmu itu akan bergerak seenaknya tidak terkendali. kenapa sih melulu perempuan?

kan yg memperkosa kan laki-laki ke perempuan. kenapa perempuannya yg harus merugi dengan memiliki geligi di vaginanya sehingga tidak bisa menikmati perayaan atas tubuhya (karena ada geligi di vaginanya)

vagina dentata itu milik perempuan seperti juga pandora yang perempuan, eve yg membawa original sin adalah perempuan, hawa yg menggoda adam untuk makan khuldi adalah juga perempuan, dan rani yg menjerat antasari adalah perempuan.
kenapa mitos-mitos itu melulu bercerita soal perempua-perempuan yg membawa kemaksiatan?

kenapa tidak diceritakan bahwa: betapa bodohnya adam, yang sudah lebih dulu tercipta sebelum hawa, betapa tidak teguh iman, dan betapa tidak teguh pendiriannya seorang laki-laki bernama adam itu sampai-sampai dia ikut-ikutan hawa, yang memang new comer dalam dunia permanusiaan, untuk makan buah khuldi. ibaratnya manusia new comer, hawa itu masih balita, baru seumur jagung jadi manusia. dan manusia yg masih balita kan emang gampang tergoda. jangankan buah, adeku si rivan aja makan tanah di taman depan rumah waktu umurnya masih 2 atau 3 tahun. dan itu tidak menjadikan adeku membawa dosa bawaan (original sin) kan?

atau jangan-jangan ada yg tidak diceritakan juga soal mitos pandora. jangan-jangan pandora itu sebenarnya juga bukan perempuan atau laki-laki. jangan-jangan ia adalah hermafrodit. jadi dia mewakili laki-laki dan perempuan sekaligus. orang suci semacam bissu yg merepresentasikan hubungan relijius di sukunya.

jadi, mulai sekarang, alih-alih vagina dentata, mungkin kita harius memitoskan "penis-kuping gajah".




Friday, November 06, 2009
professor kondom

Sore itu di rumah makan impor di bilangan tugu, saya bertanya pada seorang teman: “wah mas, tadi kondomnya kamu taro mana?”

Serta merta segerombolan pemuda (yg lebih pantas disebut om on) di meja sebelah melongok, ingin mengenali wanita yg menanyakan kondom barusan. Padahal, jawaban dari pertanyaan tadi adalah “yang satu kotak tadi? ditinggal di badran. Lagyan itu kadaluarsa kok! harusnya dibagikan ke pekerja seks aja ya. Sayang malah uda kadaluarsa”.

Kenapa y bahasa Indonesia itu sangat moralis? Kata-kata kondom, penyakit seksual, melulu konotasinya negatif. Kenapa pula dokter kandungan, dokter kelamin dan dokter-dokter lainnya tidak berusaha menetralkan bahasa dengan cara mengganti pertanyaan “sudah berkeluarga?” menjadi “apakah anda sudah pernah berhubungan sesksual?”.

Bagaimana jika si pasien sudah berhubungan seksual namun dia belum berkeluarga? Lalu dia dihujat karena belum berkeluarga tetapi mau cek kangker mulut rahim? Dokter itu berfungsi seabagi ustad, atau penyembuh sebenarnya?

Seorang perempuan, pernah dihujat habis-habisan dan diberi diagnosa asal-asalan hanya karena dia belum menikah. Malam itu menjadi malam terlama bagi perempuan itu. Ketika ia ingin sekadar mengecek kesehatan alat-alat reproduksinya, si dokter bergelar professor, serta gelar lain yg sangat panjang di belakag namanya malah menceramahi: “anda segera menikah sana! Anda tu sudah tidak punya nilai tawar! Rahim anda itu sudah BERLIPAT. Ga bisa punya anak kalau tidak segera disembuhkan. Saya tidak mau memeriksa anda! Segera cari pria YANG MAU MENIKAHI ANDA. baru BALIK LAGI PERIKSA DI SINI KALAU SUDAH MENIKAH!Anda itu sudah TIDAK PUNYA NILAI TAWAR. Sukur-sukur masih ada yg mau menikahi anda!”. Si perempuan tentu saja shock dan keluar ruanagn dokter dengan sedu sedan. (saya juga baru tahu, kalau ingin punya akses kesehatan harus menikah dulu ternyata)

Esoknya si perempuan pergi ke dokter lain. Untungnya dokter yg bukan professor ini bukanlah polisi moral. Ia memeriksa kondisi kesehatan alat reproduksi perempuan tadi. Tanpa membedakan dengan ibu-ibu lain yang barangkali oleh si professor dianggap lebih tinggi derajatnya karena datang ditemani suami. Lalu, apa diagnosa si dokter buakn professor ini? “gpp, Cuma kista kok!”

Wew… si professor polisi moral merangkap ustad ternyata salah diagnosa. Atau bahkan saya sempat berfikir buruk, bahwa jangan-jangan si professor ini memang asal bicara untuk menakut-nakuti perempuan yg belum berkeluarga namun sudah pernah berhubungan seksual itu tadi?
Ah… ayo, pemerataan hak kesehatan reproduksi yang adil, sekarang juga!



*kalau ingin bertanya perihal si professor ustad itu, termasuk di mana lokasi prakteknya, tanyakan saja via sms. saya tidak mau di-prita-kan.




Monday, October 12, 2009
militer minggir dulu

filmnya agak basi sih, tapi aku baru nonton ni. judulnya transformers. di scene-scene awal, dan banyak scene di dalamnya banyak sekali menunjukan kemiliteran, dinas-dinas rahasia, pertempuran, serta wilayah-wilayah khusus milik militer the states. tapi, dalam film ini, sama sekali tidak diperlihatkan superrioritas militer atas sipil (yang tak bersenjata).

jika dalam film janur kuning, enam djam di joga, dan serangan fajar--atau mungkin ada film film lainnya?--sipil hanya ditampilkan sebagai pelengkap derita, maka di film yang yahud ini sipil lah yang ditampilkan lebih patriotik dari pada militer. dalam kebanyakan film indonesia, sipil melulu ditampilkan sebagai pribadi yang lambat, tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat, licik, atau bahkan penghianat. sedangkan militer ditampilkan sebagai sosok yang patriot, berjiwa besar, cepat mengambil keputusan, sigap, dan bijak. (baca irawanto, budi: film ideologi dan militer)

tidak demikian dalam tranformers. sipil ditampilkan sebagai sosok pahlawan dalam film ini. dan kalaupun ada kemampuan militer yang dapat berhasil untuk mengalahkan decepticons, maka itu adalah karena bantuan sipil. sispil lebih banyak tampil sebagai pengambil keputusan, pemilik informasi (yang tetap rendah hati), baik hati, sekaligus juga tokoh kunci yang dapat menyelamatkan dunia dengan kemampuannya yang nampak terbatas. karena sipil memiliki sesuatu yang disebut "More Than Meets the Eye" oleh para autobots. bagi mereka manusia (sipil) memiliki banyak kelebihan yang tak kasat mata. dan kelebihan itu bukanlah kemampuan tempur fisik seperti yang dimiliki militer, namun apapun yang dimiliki oleh Sam Witwicky.

dalam transformers, seluruh autobots bertransformasi dari kendaraan roda empat yang biasa digunakan oleh sipil. mulai dari chevrolet, hingga porsche. dan dengan kendaraan tanpa kemampuan tempur itulah autobots berhasil mengalahkan megatron. sedangkan decepticons secara keseluruhan memilih untuk menggunakan kendaraan kendaraan "dinas" negara. mulai dari kendaraan polisi, hingga kendaraan tempur militer. hanya satu decepticons yang mentransformasi dirinya menjadi mini compo. dan tak ada satupun decepticons yang menggunakan "kendaraan sipil" tersebut. dengan demikian perang pun berubah menjadi perang militer melawan sipil. hanya segelintir militer yang ditampilkan membela para sipil: beberapa orang (satu grup) yang berhasil selamat dari penyerangan di padang pasir.

hal hal tersebut seolah menunjukan bahwa polisi serta militer dalam keadaan damai di states adalah memiliki mental yang penghianat, licik, serta tidak patriotik. sedangkan militer yang bekerja di luar states, di wilayah konflik misalnya (dalam film ini yang ditampilkana dalah Qatar), selalu ditampilkan sebagai sosok patriotik dan heroik. selalu seperti itu sejak rambo 1 hingga 4. militer juga ditampilkan sebagai sosok sok tahu yang terburu-buru mengambil keputusan. hal tersebut ditampilkan ketika kelompok militer menahan Maggie madsen karena membawa salinan rekaman sinyal dari para decepticons. padahal pada saat itu maggie madsen justru hampir menemukan jalan keluar dari permasalahan mereka.

dari seluruh militer yang ada dalam film ini, tak ada satupun yang dapat menyelamatkan the cubes/ all star dari megatron. hanya sam witwicky yang berjuang mati matian membawa cubes sendirian dengan back up dari para autobots. begitu juga ketika bumblebee mengalami kerusakan. tak ada satupun anggota militer yang berusaha menolong. justru mikaela banes lah yang akhirnya memiliki ide untuk membantu bumblebee. juga berkat mikaela banes, bumblebee dapat melumpuhkan decepticons.

di akhir cerita, tak ada satupun yang dapat mengalahkan megatron, pemimpin dari decepticons. jangankan militer, pahlawan sekaliber optimus prime saja tak mampu. hanya satu manusia bijaksana yang akhirnya mengalahkan megatron: ya, siapa lagi kalau bukan sam witwicky. seolah berkata: militer minggir dulu, sipil sedang beraksi!




Tuesday, September 08, 2009
budaya batas dunia

belakangan ini, orang indonesia kelimpungan, kebakaran jenggot, kok budaya kita diambil sana diambil sini sih? tahu dipaten jepang, mega mendung diaku malaysia, tari pendet dimasukan ke dalam iklan wisata malaysia, beberapa motif batik lain diakui perancis. trus indonesia, tempat kelahiran si artefak budaya itu, kebagian apa?

kenapa.
kenapa semua negara berbondong-bondong mengakui budaya Indonesia? kenapa Indonesia diincar. tapi, budaya Indonesia itu yang mana sih? jangan-jangan Indonesia aja yang GR, mengaku semua budaya Indonesia. hayooo... yang mana budaya Indonesia?

selama puluhan tahun, yang diperkenalkan sebagai baju adat nasional, ya cuma kebaya, kain jarik, dan baju tersanggul. trus yang pakai koteka, diberangus. kata mereka sih dibuat jadi beradab. dibuat jadi punya etika. etika yang mana ni? nilai yang mana? apa di papua memang ada nilai bahwa yang pakai kaus oblong itu jauh lebih beradab dari yang pakai koteka? beradab itu apa sih?

lalu, setelah penyeragaman yang dulu itu, muncul lagi yang baru. sekarang, yang (dianggap) seksi juga dikebiri. jaipong tak lagi berseri. tak pantas. tak bermoral. mengumbar hawa nafsu. weh... siapa yang nafsu? siapa yang nyuruh situ nafsu? situ yang nafsu kok jaipong yang disalahin? salahnya ga bisa menahan hawa nafsu.

dulu, siapa yang peduli untuk melestarikan tari pendet dalam skala yang besar-besaran? siapa yang peduli sama tari pendet sebelum diklaim bangsa lain? Ibu (sok) modern mana sih yang mendaftarkan anaknya untuk les karawitan? jangan-jangan Indonesia memang agak kurang ramah dengan budaya yang lahir dan berkembang di tubuhnya.

ada yang bilang, "pemerintah sih ga peduli, ga dipaten budayanya". sungguh saya bingung dengan statement itu. pertama, budaya Indonesia itu ada jutaan. kalau mau dipaten semua, jangan-jangan hutang pemerintah akan bertambah tiga kali lipat dari sekarang sekadar untuk bayar paten. kedua, dai buku antropologi yang saya baca, bahwa negara yang berdekatan tak hanya bertukar artefak tapi juga bertukar budaya. saling mempengaruhi satu sama lain. jadi, gimana kalau mereka juga bisa membuktikan bahwa budaya tersebut sudah turun menurun berada di wilayahnya. ketiga, emang budaya kayak buku ya? bisa dipaten.

maksudnya gini, kalau buku kan jelas ya. saya nulis buku, ya saya pegang hak paten. atau sekelompok orang bikin model pesawat terbang, ya hak patennya juga jelas dipegang para pemilik ide itu. tapi kalau budaya? siapa yang punya? suku bangsa tertentu? tapi, suku bangsa kan tidak terbatas teritori.

misalnya Indonesia mematenkan tari pendet. jadi hak nya tari pendet ada di negara Indonesia. tapi, kalau ada orang Bali, yang turun temurun tinggal di Afghanistan trus mereka mau art performance tari pendet dengan bayaran super mahal, apa mereka ga berhak? mereka bukan warga Indonesia lagi. tapi kan mereka adalah orang Bali dengan tradisi Bali. masa ga boleh menarikan tradisi nenek moyangnya.

misalnya lagi, di iklan pariwisata Malaysia itu juga ada ditampilkan budaya India. apa India lalu marah-marah dan membakar bendera Malaysia? jangan-jangan malah orang-orang India di Malaysia justru senang. mereka sudah diakui negara sebagai bagian dari Malaysia, sebagai warga negara yang setara dengan etnis melayu dan cina di sana.

meski malaysia sudah menyebalkan.
tapi apa iya Indonesia juga sudah menjadikan budaya yang ada menjadi tuan rumah di tanahnya?
apa iya, budaya itu terbatas pada batas teritori? batas otoritas? batas negara tertentu?




Friday, September 04, 2009
cawan suci, laki-laki, dan kultus diri

awalnya adalah pembicaraan dua hari lalu yang tak juga menemukan titik temu. kemarin dulu itu, saya penasaran apa yang ada dipikiran teman-teman laki-laki saya, maka saya bertanya:

"bagaimana kalau seorang perempuan lebih kapabel dalam mencari nafkah dibandingkan suaminya?"

tentu saja saya berada di posisi: well, kenapa tidak perempuan mencari nafkah. dan suami berada di rumah. kalau masalahnya adalah tekanan sosial, ya ini harus dimulai dari sekarang untuk masyarakat menerima yang seperti ini. dari pada serba ga beres?
bukan berarti menghinakan pekerjaan domestik. pekerjaan domestik juga sungguh mulia. dan sering kali jauh lebih melelahkan dari pada menjadi manajer bank. hanya saja yang saya coba katakan adalah bahwa perempuan dan laki-laki berhak memilih. laki-laki dan perempuan punya hak dan kesempatan yang sama untuk memilih mengurusi yang domestik dan atau bread winning. laki-laki juga berhak dong memilih untuk mengurusi rumah. kalau memang si laki-laki lebih kapabel di urusan domestik dan si perempuan lebih kapabel mencari nafkah, kupikir pertukaran peran sah sah saja.

karena belum ada kata sepakat, diskusi bergulir ke masa berburu dan meramu. dulu, perempuan punya otoritas dalam kelompok karena urusan bercocok tanam menjadi wilayah yang diatur perempuan. sedangkan laki-laki hanya berburu. dan pada saat itu bercocok tanam menjadi aktivitas yang sangat penting. seperti mengamini marx (i'm not good in theory. ask for your apologize if i made mistakes about it), bahwa pemilik otoritas adalah ia yang memiliki alat produksi dan ahli dalam proses produksi. jadi pada saat itu perempuan lah yang memiliki otoritas. sayangnya karena laki-laki lebih banyak memiliki waktu luang, dan (lagi-lagi) kata marx bahwa proses belajar mencari ilmu adalah pengisi waktu luang, maka akhirnya laki-laki lebih memiliki kesempatan untuk berilmu. sehingga mereka bisa menciptakan konsep ini dan itu, dan akhirnya mengambil alih kuasa.

pembicaraan kembali bergulir. kali ini ke konsep yunani. adalah Gaia, ibu dari segala dewa dewi. ibu dari manusia. ibu dari alam semesta. dan inilah konsep di mana perempuan (ibu) berada dalam tataran yang tinggi. sayangnya mitos gaia terkalahkan oleh seksinya zeus yang mata keranjang. di masa zeus, juga tidak boleh terlupakan bahwa ada hera. sang dewi perkasa yang membuat zeus bertekuk lutut. kegenitan zeus sempat dibalas hera dengan bergenit-genit dengan dewa (atau manusia laki-laki saya lupa) lain. namun ketika zeus pura-pura mati, hera menjadi sedih dan memutuskan untuk setia. selanjutnya, hera malah menyalahkan dan menghukum setiap perempuan yang didekati zeus dengan alasan mereka telah bertindak tanpa etika. hal ini sangat disayangkan karena secara tidak langsung hera menyalahkan korban dalam sebuah kasus perkosaan.

diskusi masih terus bergulir. dari mitos eropa, mitologi jawa juga tak kalah seru. konsep timur mengenai laki-laki dan perempuan sungguhnya lebih adil. dewa-dewa tidaklah digambarkan dengan jenis kelamin yang jelas. siapa yg berani bilang krisna itu laki-laki atau perempuan? atau juga konsep semar? bahkan yang lebih keren lagi adalah Bugis yang memilih Bissu seabagai pemimpin spiritual. mereka beralasan bahwa manusia tidak pernah tahu tuhan itu laki-laki atau perempuan atau mungkin bukan keduanya. jadi, mengapa tidak direpresentasikan keduanya dalam tubuh bissu? juga dalam kisah kerajaan (cina, mongol atau jawa) selalu ada konsep ibu suri. tempat di mana raja mengadu. di mana raja meminta nasehat.

konsep ibu suri ini sayangnya juga tidak menunjukan perempuan sebagai pemilik otoritas. perempuan lebih ditunjukan sebagai rumah. tempat kembali. sosok yang mengayomi. menenangkan, tetapi bukan seseorang yang memiliki kuasa. misalnyas aja dalam konsep matrilineal minangkabau. meski garis keturunan ditarik dari ibu, namun pemilik otoritas tetaplah mamak (paman dari ibu). ibu nampak seperti kerajaan inggris, sedangkan mamak adalah perdana mentrinya, yang mengatur kuasa.

jangan-jangan begitu juga dengan konsep athena. dia adalah bentuk-bentuk pengayom. pemberi. penasehat. tapi bukan pemilik otoritas. karena apapun ceritanya akhrinya zeus lah yang berkuasa. dan si ibu para dewa terlupakan oleh kaumnya.

atau, jangan-jangan ini bukan soal otoritas? jangan-jangan perempuan memang diciptakan sebagai simbol kesakralan? perempuan itu dihormati, dilindungi. karena itulah ajaran abrahamik turun di wilayah arab. karena ingin melindungi perempuan. layaknya dewi sri yang memberi penghidupan dengan mengorbankan tubuhnya, perempuan adalah mahluk istimewa? si pengayom. peghilang duka. pelipur lara. pencipta hidup. karena itulah perempuan diposisikan kultus. netral. tidak untuk terjun dalam kuasa. namun semacam man (tuh, kalimat ini aja uda bias) behid the gun. perempuan tidaklah bermain kuasa kasar. karena ia sakral. dipuja puji layaknya ibu pertiwi. cawan suci perempuanlah pencipta semesta. tempat lahirnya hidup. karena itulah tak ada kisah perempuan dalam tarik menarik kuasa. seperti ken dedes yang tidak ikut berebut kuasa. namun dari rahimnya lah lahir raja-raja jawa.

atau...
apakah sakralitas ini cuma pledoi si patriarki? supaya perempuan tak usah menjadi saingan mengurus negeri? supaya perempuan hanya mengurus suami dan meneteki adek bayi?




Next Page



jeng sueb



what people think about me is their bussiness, NOT MINE




   





<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28

please click on the date to find archives



waktu Indonesia bagian sueb (well, GMT+7)



Rika Novayanti's Facebook profile



mampir-mampir dulu?
:: adit :: anink :: crita crita serruuu :: ddee :: dee :: deedee :: didiet :: dogol :: ea-12h34 :: herru :: neNden :: kana :: mas kul-kul :: mata :: miund :: mrs. adp :: mr. capuccino ::ndutyke :: nohan :: nona nieke :: oom bud ::othephe :: Rona :: phoebe :: puri :: raditya dika :: rega :: robo :: rudi :: sammy :: sandy :: siTONIrojim :: skyadmirer :: tukang koran :: ummi :: windu :: kumpulan back up tugas nista ::





ato maen-maen ke sini?
cek imel di yahoo ato kero
prenster
virtual pets
poet
skinnya blog
cari-cari bahan kuliah








Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed