ia melangkah ke lautan yang telanjang
udara yang telanjang
pasir yang telanjang
karang yang telanjang
tanpa peduli apa yang menyebabkan ia melangkah
ia melangkah pada semua yang telanjang itu
ia ingin bersetubuhan dengan semua yang telanjang itu
dan angin pun datang
memanggil ke lautan yang telanjang
yang baunya seperti bau rahim saat ia dihamilkan
rahim yg sangat ia kenal, tempat paru paru bertumbuh dalam dirinya
dan ia merasa tak sia sia ada
seperti ada yang menunggunya dengan asbak, sekotak rokok, dan korek api
mengajaknya menulis dalam ketelanjangan, soal sajak yang tak pernah usang
paling sulit berhubungan dengan orang lain adalah saling menjaga
perasaan masing-masing. hal ini menjadi semakin sulit dengan keadaan
manusia yang beda-beda. sayangnya ga semua manusia sadar bahwa manusia
lain ga bisa baca pikiran dan ga bisa mendengar isi hati orang lain.
jadi, untuk orang-orang yang ga mau jujur di depan inilah yang paling
sulit. they can give u a big smile and a huge hug, but they gonna
backstabb you guys!
hal inilah yang masih sulit aku mengerti sampai sekarang. i thought
that's why we have mouth. to tell what u thinking off, and what u feel.
to inform somebody else. isn't it? terlebih sekarang ada banyak alat
perpanjangan mulut: handphone, internet, you mention those guys... so,
why don't you use those equipments?
jadi, buat orang-orang seperti aku, orang-orang yg suka ngomong di
belakang dan ga mau ngomongin unek-uneknya langsung di hadapan ku ini,
sangat menyusahkan. hey... what u expect from me? reading somebody's
mind and exactly know how (also why) u hate me when u give me the warm
hug? i'm not that sensitive guys!
jadi, agaknya, dari kemampuan interpersonal yang tidak terlalu baik,
dan dari banyak pola pikir yang berbeda serta segala kesalahpahaman yg
mungkin terjadi inilah pada akhirnya beberapa profesi harus berterima
kasih. lemme say... PR, Lawyer, advertising agency, atauuu biro
kampanye mungkin?
rupanya hubungan interpersonal membuat kisruh juga yaaa... beberapa
orang harus membayar juru-juru bicara, beberapa orang lagi, harus
membayar agensi humas mahal untuk bisa berhubungan baik dengan
masyarakat. (well, maybe i need one, who know? ;) ) jadi, hubungan
interpersonal ini apa?
ah... aku mempelajari ada komunikan, komunikator, pesan, medium dan
noise. sorry to say, i'm not good in theory. hanya saja bagiku batasan
komunikator dan komunikan ga terlalu penting. toh ketika kita
mengobrol, serta merta keduanya jadi komunikan dan komunikator (please
correct me if I'm wrong), toh mereka saling bertukar informasi (dalam
semiotik mereka dipermudah dengan sebutan pembaca-the reader). cuma
masalahnya bukan hanya soal noise fisik dari lingkungan (yang aku
pelajari waktu kuliah, salah satunya bisa berupa berisik di lingkungan
hingga menimbulkan distorsi makna). coba, lingkungan mendukung, tapi
sayangnya pembicaraan keduanya itu basa basi busuk. masing-masing tidak
mau berbicara apa adanya. berharap si lawan bicara sadar dengan
sendirinya atas ketidaksukaan mereka. yeah... gimana caranya?
lebih dari itu guys, noise yg paling mengganggu adalah noise dari hati
masing-masing! noise dari hati yg kumaksud juga bisa dari soal
nilai-nilai yang berbeda, kultur yang berbeda, sehingga membuat
pembongkaran makna pesan jadi sama berbeda bagi masing-masing orang.
nah... itu dia masalahnya. tau dong, dengan ucapan explicit aja orang
bisa ada distorsi makna, apalagi kalau aku diminta melihat tanda-tanda
gerakan fisik, atau mimik wajah, misalnya. guys, manusia dengan latar
belakang budaya yang sama saja bisa salah paham (you know, ade-kk yang
20 tahun hidup bersama aja bisa salah tangkep makna), apalagi kita yang
ga se-emak se-bapak dan berbeda tanah kelahiran.
jadi, mengapa tidak menggunakan cara yang paling mudah untuk berbicara?
ini juga ya sulitnya multikultur. bagi ku mudah, belum tentu juga bagi
orang lain. bagiku berbicara secara explicit itu yang paling mudah,
tapi bisa jadi berbicara explicit itu menjadi bagian yang paling kasar
untuk suku lain.
jadi, pikiran ku ini juga memang bukan yang paling benar. orang lain
bisa saja tidak terima dan gerah dengan kelakuaknku yang aku anggap
biasa-biasa aja. tapi ga okei juga kalau kemudian ada ribut-ribut antar
suku antar agama cuma urusan kesulitan penemuan makna yg sama. apalagi
dengan alasan, tuahan melaknat suatu kaum. jangan sampe bawa-bawa tuhan
ah. kalau tuhan mau, dia bisa bikin manusia jadi satu suku dan saling
langsung mengerti hanya dengan kedipan mata. (lah... iki areppe piye
ta? kok malah nggowo-nggowo tuhan)
yah... pokoknya begitulah PR muncul.
hehehhe... sotoy.
aku ga tau ding PR munculnya gimana. tapi mungkin si perusahaan ga
mungkin berbicara jujur pada masyarakat, jadi dia pake sistem "u know
lah what i mean" lalu minta PR membungkusnya dengan ciamik. mengurusi
citranya, dan mengurusi penyampaian pesannya. so, it would be easier
for them (to make the society "understand" with less disagreement).
atau kalau akhirnya proses komunikasi itu gagal, maka yah... giliran si
profesi pengacara itu yang turun tangan.
hahahaha... note kali ini emang sampah banget.
anyway, ini catatan ketika pengen menulis tapi ga tau mau menulis apa. so i'm just talking crap :D
pertama kali menonton avatar, yang menjadi high light dalam benakku
adalah soal politik tambang. gambaran keserakahan menggali unubtonium
(atau apa itu namanya aku lupa) di Pandora, sama persis seperti
penggalian emas oleh PT Freeport. di mana gunung bisa menjadi lembah.
dan itu menyedihkan sekali. manusia seolah melegitimasi kalau alam
serta kehidupan lain di luar mereka hanyalah sekadar alat pemenuhan
hasrat dan eksistensi manusia itu sendiri. betapa manusia lupa kalau
manusia itu hanya bagian kecil dari siklus alam, siklus kehidupan.
berkebalikan dengan Na'Vi yang selalu ingat bahwa mereka adalah bagian
dari siklus kehidupan. "kekuatan hanyalah dipinjamkan oleh alam, maka
kekuatan itu harus dikembalikan suatu saat nanti" ungkap Neytiri
mengenai kematian.
jadi, aku pikir, seratus buat james cameron untuk pesannya yg satu ini.
sampai sekarang aku sungguh-sungguh berfikir kalau yang namanya kiamat
itu sendiri adalah kerusakan lingkungan yang sangat parah hingga tak
bisa ditanggung oleh bumi lagi. dengan demikian, bumi harus memuntahkan
segala isinya. bumi harus mematikan manusia di dalamnya, agar ia bisa
memperbaiki dirinya lagi. dan yang namanya dajjal itu mungkin juga
tidak harfiah berbentuk manusia. jangan-jangan dajjal itu adalah
corporate-corporate yang merusak alam, memecah belah manusia, membalik
yang benar dan yang salah. well... siapa tahu...
anyway... aku ga mau berpanjang lebar di persoalan kiamat dan dajjal.
juga politik tambang. sorry to say, but i must say this, film ini
Hollywood banget (but still great, film keren untuk menutup 2009).
kenapa film ini Hollywood banget?
1. Militer selalu menang, jika militer kalah, kembalilah ke pernyataan pertama.
seorang teman pernah berkata bahwa di film Hollywood, entah tentara
atau bukan, tapi Yahudi selalu menang. unfortunately i don't know the
nationality of Jake Sully, but he's a veteran. as he said: "You can be
a veteran, but you will never really out of the military, there's no ex
militer, you will always have the attitude." so... walaupun militer
bumi ga menang, tapi Sully, sebagai militer, dan sebagai pemimpin
peperanganlah yang memenangkan pertempuran ini. meski dengan bantuan
Eywa, namun Jake Sully adalah pemenangnya. The one and only. tak ada
adegan di mana Jake Sully dibantu dalam melawan musuh dalam peperangan
terakhirnya. Tsu'Tey, Moat dan Eytukan harus meninggal dalam
pertempuran, dan Neytiri terbantu oleh penghuni hutan yang diutus oleh
Eywa. sedangkan Jake Sully selalu memenangkan setiap pertempuran. meski
di awal ia terbantu oleh kedatangan Neytiri, tapi tetap saja ia
berhasil membunuh hewan-hewan yang menyerangnya. so, millitary alwas
win. meski ada adegan di mana Neytiri berhasil menghalangi sang Kolonel
untuk menghancurkan Jake Sully dalam tubuh manusianya. namun, itu Jake
Sully yang sedang tidak sadar. lagi pula toh Jake Sully menyelamatkan
Neytiri kemudian. jika Neytiri menyelamatkan Jake Sully dari tubuh
manusia yang kehabisan nafas, toh Sully juga menyelamatkan Omaticaya,
bahkan Pandora. jadi impas bukan?
2. Patriarki. ini yang selalu ada hampir di setiap film
Hollywood. dan kentara banget di film ini. usai upacara sebagai orang
dewasa, hal utama yang disampaikan oleh Neytiri adalah: "sekarang kamu
sudah menjadi bagian dari Omaticaya. dan kamu boleh memilih
perempuan-perempuan dari suku kami. we have many fine woman in
Omaticaya". well, is it fine women just like some fine wine? I was born
as a human being, not as a girl or a boy. this sentence is pissing me
off! mereka fikir perempuan adalah komoditas yang bisa dipilih-pilih?
apakah perempuan tidak punay hak yang sama dengan laki-laki sehingga
hanya bisa dipilih! meski Jake Sully berkata bahwa "I have chose a
woman, but this woman should chose me too". bagiku itu tak ada artinya
karena ucapan Neytiri menyatakan kelaziman yang ada adalah bahwa yang
berpenis harus memilih yang bervagina. itukah yang ada dipikiran James
Cameron dan orang-orang besar di Hollywood sana? perempuan sebagai
komoditas? Damn!
3. the winner is the one who last laugh, and they will always win.
there's no sad ending. seperti Ultraman yang selalu bangun di saat
terakhir karena teringat cinta orang-orang di sekitarnya, maka begitu
juga dengan Avatar. selalu ada keajaiban. sebelumnya tak pernah di
singgung bahwa Na'Vi terdiri dari banyak suku. namun begitu kepepet,
tiba-tiba, dengan cinta Neytiri, Jake Sully bisa bangkit, mengejar Last
Shadow (aku lupa last shadow dalam bahasa Na'Vi itu apa?) dan menjadi
penungguang last Shadow, lalu mengumpulkan ribuan Na'Vi dari banyak
suku yang ada di Pandora. well yeah, they almost lose, but the love of
Eywa won't let them lose. yeah, the will never lose buddy!
4. the hero always great in public speaking, and they will become more great with the power of love.
apa kehebatan Jake Sully yang paling hebat? MOTIVASI read my lips HE"S
A GOOD MOTIVATOR. saat hampir kalah, ia menjadi penunggang last shadow
dan berhasil membakar semangat masyarakat Omaticaya. begitu juga ketika
ia berbicara dengan Eywa melalui pohon arwah... hey, they always good
in talking. bahkan si Colonel Miles Quaritch pun sempat-sempatnya
berpidato ketika tarung-tarungan dengan Jake Sully. inget banget dia
bilang: "do you want to betray you're own race?"... well, they're all
good in speaking, and braind washing. maybe that thing is the thing
which make USA as good as nowadays...
well guys, boleh ditambah lagi untuk nomor 5 dan seterusnya...
nb. sangat menyayangkan orang-orang tua mengajak anaknya yang umurnya
di bawah level remaja (rate film ini remaja. berarti lebih dari 13
tahun la ya...) untuk menonton film ini. kenapa ya mereka ga cari tau
dulu film ini kayak apa. di sebelahku kemarin dulu adalah anak sekitar
kelas 3 SD. haddooohhh dia nonton adegan ciuman dan adegan bunuh-bunuhan
dong...
Tubuh. Perempuan. Membayangkan
sesuatu atas keduanya?
Aliran darah, keratan
daging yang melekat pada rangka yang digerakan urat? Seorang Channel Iman?
Sebentuk bokong, payudara, bibir? Bokong Jennifer Lopez, payudara Dolly Parton,
bibir Angelina Jolie? Maria Ozawa yang diproduseri ayahnya dan terkenal sebagai
produk pornografi dengan label Miyabi? Sedot lemak dan bedah plastik berharap
tubuh “ideal” selayak Barbie atau mannequin? Anorexia yang telah berkontribusi
atas 0,56% kematian tubuh-tubuh (yang hampir seluruhnya) perempuan di Amerika?
Kesucian Perawan Maria
yang absolut hingga kematiannya? Pergulatan batin manusia layaknya Frankenstein
yang bertanya milik siapakah dirinya, tubuhnya? Pangkal dari segala
kekotorankah ia hingga kelahirannya harus disertai dengan kematian, pembunuhan
atas tubuhnya? Sekadar tanah yang kankembali ke kodratnya, dikubur hanya dengan selembar kain, ditutupi
tanah, atau justru sangat suci dan berharga hingga harus diaben dengan biaya
berpuluh juta, dimumi, dibuatkan Piramida atau dibangunkan Taj Mahal nan megah?
Kuasa mana yang boleh
mendominasi tubuh, perempuan, tubuh perempuan? Negara? Agama? Mengapa seseorang
tak diberi hak untuk menolak hidup dalam tubuh sakitnya? Mengapa euthanasia
dianggap sama dengan bunuh diri, atau membunuh? Jika tubuh itu adalah tubuh
janin, siapa yang berkuasa atas janin tersebut? Si Ibu, Ayah, Agama, Negara?
Mengapa perempuan tak diberi kebebasan untuk menolak benda asing dalam rahimnya
melalui penghentian kehamilan?
Kemarin dulu negara
muncul dengan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi yang mengusung tubuh
manusia sebagai bahasan utama. Melindungi perempuan dan anak-anak, katanya, tubuh
sosial harus diatur agar tak memicu degradasi moral. Mengingatkanku pada Eropa
abad pertengahan yang memenjara Sade karena menulis dengan erotis. Meski sudah
sah, banyak juga yang terus menolak, tubuh adalah arena privat yang tak boleh
didominasi oleh kekuasaan manapun kata mereka yang kontra. Busukkah tubuh
sosial hingga harus ditahan-tahan keberadaannya?
Lokus agama tak mau
kalah. Tubuh begitu dijaga keberadaannya, ditutupi sebegitu rapat, dibuat
lapar, disiksa agar kesucian jiwa dapat menyelimuti tubuh yang kotor. Asketisme
menuntut penyangkalan atas tubuh. Pandangan harus dijaga dari tubuh-tubuh
seronok karena akan merusak jiwa di dalam tubuh. Kebutuhan seksual dinegasikan,
persetubuhan menjadi dosa. Burukkah tubuh, mengganggu jiwakah ia?
My Dear Society,
Lalu, kenapa harus ada selaput dara, benda tipis beberapa
mili pembawa bencana, yang bisa saja robek terkena jok sepeda? Dari semua
bagian tubuh perempuan, benda satu itu justru menjadi begitu dipuja—sampai orang-orang
tua selalu berpetuah agar selaput dara harus di jaga—harga diri kata mereka.
Lagi pula mengapa selaput dara harus ada di perempuan, bukan hanya secara
fisik, tapi kemudian juga menjadi konsepsi kesucian dan disimbolkan dalam cadar
pengantin? Mengapa tidak laki-laki saja yang mengenakan cadar ketika menikah,
untuk menunjukan bahwa mereka (para laki-laki itu) juga masih perjaka? Lalu,
sesudah cadar itu dibuka, panggilan pun berubah. Nona, Nyonya, Miss, Misses. Mengapa
lelaki tetap Tuan dan Mister?
Ah, membicarakan perempuan memang tak berkesudahan.
Tubuhnya, wajahnya, cara berjalannya, tertawanya, hidupnya, matinya, tak pernah
habis dibincangkan.
Kemarin dulu aku ke dokter di ujung jalan itu. seorang yang
terkenal. Tak mungkin aku salah melihat kata Profesor di awal namanya. apa dengan
kata professor itu ia jadi berhak mencampuri kuasa atas tubuhku? Tubuhku kotor
katanya. Dan si dokter menolak memberiku perolongan. Menurutnya penyakit itu
persoalan holistic, moral ku harus diperbaiki terlebih dahulu. Percuma jika aku
ditolong tapi moralku tidaklah baik. Sebenarnya yang baik itu yang seperti apa?
Mengapa tak ada yang mengajarkannya secara menyeluruh padaku—holistic kalau
meminjam kata si professor terkenal itu)
Beberapa tahun lalu, juga temanku harus ditolong dokter
lainnya—untung bukan si professor itu. ia kurang makan, anorexia kata majalah
yang pernah kubaca. Tak banyak aku dengar laki-laki yang anoreksia, meski juga
ada. Melulu perempuan. Aku membayangkan betapa sulitnya hidup jadi Britney atau
artis muda masa kini. Sesudah melahirkan, publik mengecam ia terlalu gemuk, setelah
diet malah menjadi terlalu kurus. Menjadi gemuk memang bukan dosa. Hanya saja, bukankah
kurus, cantik, putih dan berambut panjang adalah jalan tol bagi perempuan? Seorang
teman yang cantik, jadi lebih mudah diterima ketika masuk ke lingkungan baru. seolah
jelek itu berbanding lurus dengan jahat dan orang cantik itu malaikat yang
menyamar. Tak heran jika kemudian banyak perempuan yang memilih mati dari pada
hidup jadi perempuan “jelek”. Ah… menjadi jelek saja sudah dosa sosial,
bagaimana dengan menjadi difabel? Dosakah mereka?
My
Very dear Society,
Aku kah yang salah? Perempuan kah yang salah? Mungkin ini
retoris, but i’m here, standing still, waiting for a reason.
baru-baru ini 33 orang aktivis green peace ditahan di Riau akibat
aksinya. satu hal yang mungkin dilupa para aktivis ini: masyarakat di
pelosok riau sana, mungkin belum pernah mendengar soal global warming.
greenpeace harusnya ingat tingkat literasi masyarakat indonesia.
jangankan ngomongin global warming, cara membaca global warming dengan
cara keinggrisan saja mereka tidak bisa. mana tahu mereka pentingnya
hutan yg setiap hari memberi makan buat mereka. yang mereka tahu, kalau
alat berat disegel, maka mereka tidak dapat bekerja, dan anak-istri
harus puasa beberapa hari. ironi.
ada satu hal yg selalu jadi kata ajaibnya campaign: think global, act local!
mungkin ini yg dilupa PR nya greenpeace.
ketika mengetahui produknya bermasalah, salah satu perusahaan serta
merta menarik produknya dari pasaran amerika. dan kebijakan ekstrim ini
justru baik bagi bisnis. konsumen percaya pada kesungguhan si
perusahaan atas kualitas barangnya. namun ketika kebijakan yg sama
dilakukan di malaysia, maka perusahaan tersebut terancam bangkrut. ada
nilai-nilai yg membuat suatu campaign tidak bisa di copy paste begitu
saja.
namun satu hal yag disayangkan dari "penegak hukum" (oh... rasanya
gatal-gatal setelah mengetik frasa itu) di Indonesia. 22 aktivis
greenpeace resmi menjadi tersangka, kata media online hari ini.
aktivis itu layaknya nabi. dan nabi itu menurutku aktivis-aktivis
pertama. aktivis tercanggih di zamannya. pembawa perubahan
sosial-budaya masyarakat. kesulitan ibrahim hingga muhammad adalah
mengubah budaya ribuan tahun suku badui yang biasa menyembah berhala.
mengubah kebiasaan merendahkan perempuan (sungguh, kalau ada orang
islam, yang teriak ALLAHUAKBAR paling kenceng dan dia bilang perempuan
harus di bawah laki-laki, Muhammad pasti gelisah di sana). serta
melakukan gerakan-gerakan progresif lain di zamannya.
jika Muhammad tiba-tiba datang di abad 20 ini dengan konsep Tuhannya,
mungkin masyarakat juga akan tertawa, seperti tertawanya masyarakat
suku badui. seperti tertawanya abu jahal dan abu lahab. dan itu juga
yang terjadi pada Harvey Milk, aktivis gay San Fransisco yang berulang
kali terancam dibunuh karena semangatnya melakukan trasformasi sosial,
sampai akhirnya benar-benar terbunuh.
campaign yang dilakukan Muhammad melalui berdagang terbukti berhasil.
mungkin kalau melalui tahapan campaign, campaign a la muhammad sudah
melewati 3 fase awal. dan belum menemukan fase di mana sebuah merk
menjadi mati. penguasaan Islam atas banyak negara lain yang tadinya
belum islam, tidak dengan mencampuri urusan kenegaraan. islam masuk
melalui jalur sosial dan budaya. sehingga hal tersebut menguat.
pemimpin boleh berganti, namun agama tetap islam. berbeda dengan
penguasaan agama di tanah jawa. pergantian hindu-budha-islam-kristen,
amat bergantung pada para pemimpin mereka. namun seperti juga dengan
campaign lain-lainnya, cara-cara muhammad, tidak bisa ci copy paste
seenak jidat ke masyarakat lain. memangnya suku badui di arab punya
nilai yg sama dengan suku badui di jawa barat?
kembali ke soal aktivis-aktivis pertama. mereka (para nabi dan rasul)
memiliki seperangkat ideologi yang mati-matian diperjuangkan. mereka
memiliki sekarung penuh keyakinan mengenai ideologi mereka. dan mereka
maju tak gentar dengan ideologi mereka. tak peduli berapa kali ancaman
pembunuhan atas muhammad, munir, yesus, maupun annita roddick, tak ada
satupun ancaman tersebut yg membuat mereka berhenti hingga nafas
terakhirnya.
dan yang terjadi masih sama sejak dulu hingga sekarang. para aktivis
tersebut kemudian dikriminalisasi oleh para "pembengkok hukum"
(hahhah... lebih pas dari pada "penegak hukum"). Muhammad diburu oleh
pemimpin sukunya untuk dibunuh karena dianggap membawa ajaran sesat
(tiba-tiba kok ingat kelompok Ahmadiyah ya...), Munir, ya dimunirkan di
atas Garuda, Yesus teraniaya di tiang salib yang diseretnya puluhan
kilo.
agaknya hidup itu paling susah jadi orang progresif. jadi orang yang
lebih maju dari jamannya, seperti muhammad yang ditolak kaumnya. atau
yesus yang dipancang di tiang salib. pengetahuan jadi beban tersendiri
buat mereka. mereka yang tahu lebih dulu dan terusik atas ketahuannya
itu. tidakkah terpikirkan kalau kadang-kadang rasanya lebih baik jadi
orang yg tidak tahu apa-apa? hidup jadi lebih damai. tidak tahu kalau
ada ribut-ribut di luar.
(yes, I'm an activist adalah tagline yg sering duganakan annita roddick)
"vagina dentata"
have u ever heard this term before?
ceritanya di indonesia emang ga kenceng ya. jadi mungkin teman-teman juga belum pernah dengar.
so, i would like to present: vagina dentata a.k.a vagina bergigi.
di eropa atau amerika sana dipercaya bahwa geligi dapat bertumbuh di
vagina. dan kabar burung juga mengatakan banyak perempuan di luar sana
yg mengidap sindrom vagina dentata.
memang hanya mitos (walau beberapa tulisan tidak valid di internet
menyebutkan bahwa bisa pula semacam gigi bertumbuh di tumor yang ada di
vagina), dan yang saya percaya sih memang hanya mitos. namun mitos ini
sangatlah tidak adil.
mitos ini berkembang dengan semakin tingginya angka seks bebas serta
pemerkosaan terhadap perempuan. jadi, dengan mempercayai adanya vagina
bergigi--yang tidak dapat dikendalikan selera menggigitnya--diharapkan
para laki-laki tidak sembarang "main perempuan" (sial kenapa tidak ada
terminologi "main laki-laki"?), juga diharapkan tidak lagi banyak
perempuan yg diperkosa. soalnya salah-salah bisa-bisa perempuan yang
mau diperkosa itu punya geligi di vaginanya. laki-laki juga ga mau kan
penisnya habis...
tapi, kenapa vagina bergigi? kenapa tidak dimitoskan: kalau kamu
memperkosa maka penis mu akan tumbuh kuping seperti kuping gajah, dan
kuping itu kaku sehingga kalau kamu pake celana maka kamu akan seperti
mengenakan bando mickey mouse di penis?
atau kalau kamu suka berganti pasangan maka pantatmu akan memanjang
seperti hidung pinokio (jadi seperti punya penis depan belakang), dan
pantat memanjangmu itu akan bergerak seenaknya tidak terkendali. kenapa
sih melulu perempuan?
kan yg memperkosa kan laki-laki ke perempuan. kenapa perempuannya yg
harus merugi dengan memiliki geligi di vaginanya sehingga tidak bisa
menikmati perayaan atas tubuhya (karena ada geligi di vaginanya)
vagina dentata itu milik perempuan seperti juga pandora yang perempuan,
eve yg membawa original sin adalah perempuan, hawa yg menggoda adam
untuk makan khuldi adalah juga perempuan, dan rani yg menjerat antasari
adalah perempuan.
kenapa mitos-mitos itu melulu bercerita soal perempua-perempuan yg membawa kemaksiatan?
kenapa tidak diceritakan bahwa: betapa bodohnya adam, yang sudah lebih
dulu tercipta sebelum hawa, betapa tidak teguh iman, dan betapa tidak
teguh pendiriannya seorang laki-laki bernama adam itu sampai-sampai dia
ikut-ikutan hawa, yang memang new comer dalam dunia permanusiaan, untuk
makan buah khuldi. ibaratnya manusia new comer, hawa itu masih balita,
baru seumur jagung jadi manusia. dan manusia yg masih balita kan emang
gampang tergoda. jangankan buah, adeku si rivan aja makan tanah di
taman depan rumah waktu umurnya masih 2 atau 3 tahun. dan itu tidak
menjadikan adeku membawa dosa bawaan (original sin) kan?
atau jangan-jangan ada yg tidak diceritakan juga soal mitos pandora.
jangan-jangan pandora itu sebenarnya juga bukan perempuan atau
laki-laki. jangan-jangan ia adalah hermafrodit. jadi dia mewakili
laki-laki dan perempuan sekaligus. orang suci semacam bissu yg
merepresentasikan hubungan relijius di sukunya.
jadi, mulai sekarang, alih-alih vagina dentata, mungkin kita harius memitoskan "penis-kuping gajah".
Sore itu di rumah makan impor di bilangan tugu, saya bertanya pada seorang teman: “wah mas, tadi kondomnya kamu taro mana?”
Serta merta segerombolan pemuda (yg lebih pantas disebut om on) di meja
sebelah melongok, ingin mengenali wanita yg menanyakan kondom barusan.
Padahal, jawaban dari pertanyaan tadi adalah “yang satu kotak tadi?
ditinggal di badran. Lagyan itu kadaluarsa kok! harusnya dibagikan ke
pekerja seks aja ya. Sayang malah uda kadaluarsa”.
Kenapa y bahasa Indonesia itu sangat moralis? Kata-kata kondom,
penyakit seksual, melulu konotasinya negatif. Kenapa pula dokter
kandungan, dokter kelamin dan dokter-dokter lainnya tidak berusaha
menetralkan bahasa dengan cara mengganti pertanyaan “sudah
berkeluarga?” menjadi “apakah anda sudah pernah berhubungan sesksual?”.
Bagaimana jika si pasien sudah berhubungan seksual namun dia belum
berkeluarga? Lalu dia dihujat karena belum berkeluarga tetapi mau cek
kangker mulut rahim? Dokter itu berfungsi seabagi ustad, atau penyembuh
sebenarnya?
Seorang perempuan, pernah dihujat habis-habisan dan diberi diagnosa
asal-asalan hanya karena dia belum menikah. Malam itu menjadi malam
terlama bagi perempuan itu. Ketika ia ingin sekadar mengecek kesehatan
alat-alat reproduksinya, si dokter bergelar professor, serta gelar lain
yg sangat panjang di belakag namanya malah menceramahi: “anda segera
menikah sana! Anda tu sudah tidak punya nilai tawar! Rahim anda itu
sudah BERLIPAT. Ga bisa punya anak kalau tidak segera disembuhkan. Saya
tidak mau memeriksa anda! Segera cari pria YANG MAU MENIKAHI ANDA. baru
BALIK LAGI PERIKSA DI SINI KALAU SUDAH MENIKAH!Anda itu sudah TIDAK
PUNYA NILAI TAWAR. Sukur-sukur masih ada yg mau menikahi anda!”. Si
perempuan tentu saja shock dan keluar ruanagn dokter dengan sedu sedan.
(saya juga baru tahu, kalau ingin punya akses kesehatan harus menikah
dulu ternyata)
Esoknya si perempuan pergi ke dokter lain. Untungnya dokter yg bukan
professor ini bukanlah polisi moral. Ia memeriksa kondisi kesehatan
alat reproduksi perempuan tadi. Tanpa membedakan dengan ibu-ibu lain
yang barangkali oleh si professor dianggap lebih tinggi derajatnya
karena datang ditemani suami. Lalu, apa diagnosa si dokter buakn
professor ini? “gpp, Cuma kista kok!”
Wew… si professor polisi moral merangkap ustad ternyata salah diagnosa.
Atau bahkan saya sempat berfikir buruk, bahwa jangan-jangan si
professor ini memang asal bicara untuk menakut-nakuti perempuan yg
belum berkeluarga namun sudah pernah berhubungan seksual itu tadi?
Ah… ayo, pemerataan hak kesehatan reproduksi yang adil, sekarang juga!
*kalau ingin bertanya perihal si professor ustad itu, termasuk di mana
lokasi prakteknya, tanyakan saja via sms. saya tidak mau di-prita-kan.
filmnya agak basi sih, tapi aku baru nonton ni. judulnya transformers.
di scene-scene awal, dan banyak scene di dalamnya banyak sekali
menunjukan kemiliteran, dinas-dinas rahasia, pertempuran, serta
wilayah-wilayah khusus milik militer the states. tapi, dalam film ini,
sama sekali tidak diperlihatkan superrioritas militer atas sipil (yang
tak bersenjata).
jika dalam film janur kuning, enam djam di joga, dan serangan
fajar--atau mungkin ada film film lainnya?--sipil hanya ditampilkan
sebagai pelengkap derita, maka di film yang yahud ini sipil lah yang
ditampilkan lebih patriotik dari pada militer. dalam kebanyakan film
indonesia, sipil melulu ditampilkan sebagai pribadi yang lambat, tidak
dapat mengambil keputusan dengan cepat, licik, atau bahkan penghianat.
sedangkan militer ditampilkan sebagai sosok yang patriot, berjiwa
besar, cepat mengambil keputusan, sigap, dan bijak. (baca irawanto,
budi: film ideologi dan militer)
tidak demikian dalam tranformers. sipil ditampilkan sebagai sosok
pahlawan dalam film ini. dan kalaupun ada kemampuan militer yang dapat
berhasil untuk mengalahkan decepticons, maka itu adalah karena bantuan
sipil. sispil lebih banyak tampil sebagai pengambil keputusan, pemilik
informasi (yang tetap rendah hati), baik hati, sekaligus juga tokoh
kunci yang dapat menyelamatkan dunia dengan kemampuannya yang nampak
terbatas. karena sipil memiliki sesuatu yang disebut "More Than Meets
the Eye" oleh para autobots. bagi mereka manusia (sipil) memiliki
banyak kelebihan yang tak kasat mata. dan kelebihan itu bukanlah
kemampuan tempur fisik seperti yang dimiliki militer, namun apapun yang
dimiliki oleh Sam Witwicky.
dalam transformers, seluruh autobots bertransformasi dari kendaraan
roda empat yang biasa digunakan oleh sipil. mulai dari chevrolet,
hingga porsche. dan dengan kendaraan tanpa kemampuan tempur itulah
autobots berhasil mengalahkan megatron. sedangkan decepticons secara
keseluruhan memilih untuk menggunakan kendaraan kendaraan "dinas"
negara. mulai dari kendaraan polisi, hingga kendaraan tempur militer.
hanya satu decepticons yang mentransformasi dirinya menjadi mini compo.
dan tak ada satupun decepticons yang menggunakan "kendaraan sipil"
tersebut. dengan demikian perang pun berubah menjadi perang militer
melawan sipil. hanya segelintir militer yang ditampilkan membela para
sipil: beberapa orang (satu grup) yang berhasil selamat dari
penyerangan di padang pasir.
hal hal tersebut seolah menunjukan bahwa polisi serta militer dalam
keadaan damai di states adalah memiliki mental yang penghianat, licik,
serta tidak patriotik. sedangkan militer yang bekerja di luar states,
di wilayah konflik misalnya (dalam film ini yang ditampilkana dalah
Qatar), selalu ditampilkan sebagai sosok patriotik dan heroik. selalu
seperti itu sejak rambo 1 hingga 4. militer juga ditampilkan sebagai
sosok sok tahu yang terburu-buru mengambil keputusan. hal tersebut
ditampilkan ketika kelompok militer menahan Maggie madsen karena
membawa salinan rekaman sinyal dari para decepticons. padahal pada saat
itu maggie madsen justru hampir menemukan jalan keluar dari
permasalahan mereka.
dari seluruh militer yang ada dalam film ini, tak ada satupun yang
dapat menyelamatkan the cubes/ all star dari megatron. hanya sam
witwicky yang berjuang mati matian membawa cubes sendirian dengan back
up dari para autobots. begitu juga ketika bumblebee mengalami
kerusakan. tak ada satupun anggota militer yang berusaha menolong.
justru mikaela banes lah yang akhirnya memiliki ide untuk membantu
bumblebee. juga berkat mikaela banes, bumblebee dapat melumpuhkan
decepticons.
di akhir cerita, tak ada satupun yang dapat mengalahkan megatron,
pemimpin dari decepticons. jangankan militer, pahlawan sekaliber
optimus prime saja tak mampu. hanya satu manusia bijaksana yang
akhirnya mengalahkan megatron: ya, siapa lagi kalau bukan sam witwicky.
seolah berkata: militer minggir dulu, sipil sedang beraksi!
belakangan ini, orang indonesia kelimpungan, kebakaran jenggot, kok
budaya kita diambil sana diambil sini sih? tahu dipaten jepang, mega
mendung diaku malaysia, tari pendet dimasukan ke dalam iklan wisata
malaysia, beberapa motif batik lain diakui perancis. trus indonesia,
tempat kelahiran si artefak budaya itu, kebagian apa?
kenapa.
kenapa semua negara berbondong-bondong mengakui budaya Indonesia?
kenapa Indonesia diincar. tapi, budaya Indonesia itu yang mana sih?
jangan-jangan Indonesia aja yang GR, mengaku semua budaya Indonesia.
hayooo... yang mana budaya Indonesia?
selama puluhan tahun, yang diperkenalkan sebagai baju adat nasional, ya
cuma kebaya, kain jarik, dan baju tersanggul. trus yang pakai koteka,
diberangus. kata mereka sih dibuat jadi beradab. dibuat jadi punya
etika. etika yang mana ni? nilai yang mana? apa di papua memang ada
nilai bahwa yang pakai kaus oblong itu jauh lebih beradab dari yang
pakai koteka? beradab itu apa sih?
lalu, setelah penyeragaman yang dulu itu, muncul lagi yang baru.
sekarang, yang (dianggap) seksi juga dikebiri. jaipong tak lagi
berseri. tak pantas. tak bermoral. mengumbar hawa nafsu. weh... siapa
yang nafsu? siapa yang nyuruh situ nafsu? situ yang nafsu kok jaipong
yang disalahin? salahnya ga bisa menahan hawa nafsu.
dulu, siapa yang peduli untuk melestarikan tari pendet dalam skala yang
besar-besaran? siapa yang peduli sama tari pendet sebelum diklaim
bangsa lain? Ibu (sok) modern mana sih yang mendaftarkan anaknya untuk
les karawitan? jangan-jangan Indonesia memang agak kurang ramah dengan
budaya yang lahir dan berkembang di tubuhnya.
ada yang bilang, "pemerintah sih ga peduli, ga dipaten budayanya".
sungguh saya bingung dengan statement itu. pertama, budaya Indonesia
itu ada jutaan. kalau mau dipaten semua, jangan-jangan hutang
pemerintah akan bertambah tiga kali lipat dari sekarang sekadar untuk
bayar paten. kedua, dai buku antropologi yang saya baca, bahwa negara
yang berdekatan tak hanya bertukar artefak tapi juga bertukar budaya.
saling mempengaruhi satu sama lain. jadi, gimana kalau mereka juga bisa
membuktikan bahwa budaya tersebut sudah turun menurun berada di
wilayahnya. ketiga, emang budaya kayak buku ya? bisa dipaten.
maksudnya gini, kalau buku kan jelas ya. saya nulis buku, ya saya
pegang hak paten. atau sekelompok orang bikin model pesawat terbang, ya
hak patennya juga jelas dipegang para pemilik ide itu. tapi kalau
budaya? siapa yang punya? suku bangsa tertentu? tapi, suku bangsa kan
tidak terbatas teritori.
misalnya Indonesia mematenkan tari pendet. jadi hak nya tari pendet ada
di negara Indonesia. tapi, kalau ada orang Bali, yang turun temurun
tinggal di Afghanistan trus mereka mau art performance tari pendet
dengan bayaran super mahal, apa mereka ga berhak? mereka bukan warga
Indonesia lagi. tapi kan mereka adalah orang Bali dengan tradisi Bali.
masa ga boleh menarikan tradisi nenek moyangnya.
misalnya lagi, di iklan pariwisata Malaysia itu juga ada ditampilkan
budaya India. apa India lalu marah-marah dan membakar bendera Malaysia?
jangan-jangan malah orang-orang India di Malaysia justru senang. mereka
sudah diakui negara sebagai bagian dari Malaysia, sebagai warga negara
yang setara dengan etnis melayu dan cina di sana.
meski malaysia sudah menyebalkan.
tapi apa iya Indonesia juga sudah menjadikan budaya yang ada menjadi tuan rumah di tanahnya?
apa iya, budaya itu terbatas pada batas teritori? batas otoritas? batas negara tertentu?
awalnya adalah pembicaraan dua hari lalu yang tak juga menemukan titik
temu. kemarin dulu itu, saya penasaran apa yang ada dipikiran
teman-teman laki-laki saya, maka saya bertanya:
"bagaimana kalau seorang perempuan lebih kapabel dalam mencari nafkah dibandingkan suaminya?"
tentu saja saya berada di posisi: well, kenapa tidak perempuan mencari
nafkah. dan suami berada di rumah. kalau masalahnya adalah tekanan
sosial, ya ini harus dimulai dari sekarang untuk masyarakat menerima
yang seperti ini. dari pada serba ga beres?
bukan berarti menghinakan pekerjaan domestik. pekerjaan domestik juga
sungguh mulia. dan sering kali jauh lebih melelahkan dari pada menjadi
manajer bank. hanya saja yang saya coba katakan adalah bahwa perempuan
dan laki-laki berhak memilih. laki-laki dan perempuan punya hak dan
kesempatan yang sama untuk memilih mengurusi yang domestik dan atau
bread winning. laki-laki juga berhak dong memilih untuk mengurusi
rumah. kalau memang si laki-laki lebih kapabel di urusan domestik dan
si perempuan lebih kapabel mencari nafkah, kupikir pertukaran peran sah
sah saja.
karena belum ada kata sepakat, diskusi bergulir ke masa berburu dan
meramu. dulu, perempuan punya otoritas dalam kelompok karena urusan
bercocok tanam menjadi wilayah yang diatur perempuan. sedangkan
laki-laki hanya berburu. dan pada saat itu bercocok tanam menjadi
aktivitas yang sangat penting. seperti mengamini marx (i'm not good in
theory. ask for your apologize if i made mistakes about it), bahwa
pemilik otoritas adalah ia yang memiliki alat produksi dan ahli dalam
proses produksi. jadi pada saat itu perempuan lah yang memiliki
otoritas. sayangnya karena laki-laki lebih banyak memiliki waktu luang,
dan (lagi-lagi) kata marx bahwa proses belajar mencari ilmu adalah
pengisi waktu luang, maka akhirnya laki-laki lebih memiliki kesempatan
untuk berilmu. sehingga mereka bisa menciptakan konsep ini dan itu, dan
akhirnya mengambil alih kuasa.
pembicaraan kembali bergulir. kali ini ke konsep yunani. adalah Gaia,
ibu dari segala dewa dewi. ibu dari manusia. ibu dari alam semesta. dan
inilah konsep di mana perempuan (ibu) berada dalam tataran yang tinggi.
sayangnya mitos gaia terkalahkan oleh seksinya zeus yang mata
keranjang. di masa zeus, juga tidak boleh terlupakan bahwa ada hera.
sang dewi perkasa yang membuat zeus bertekuk lutut. kegenitan zeus
sempat dibalas hera dengan bergenit-genit dengan dewa (atau manusia
laki-laki saya lupa) lain. namun ketika zeus pura-pura mati, hera
menjadi sedih dan memutuskan untuk setia. selanjutnya, hera malah
menyalahkan dan menghukum setiap perempuan yang didekati zeus dengan
alasan mereka telah bertindak tanpa etika. hal ini sangat disayangkan
karena secara tidak langsung hera menyalahkan korban dalam sebuah kasus
perkosaan.
diskusi masih terus bergulir. dari mitos eropa, mitologi jawa juga tak
kalah seru. konsep timur mengenai laki-laki dan perempuan sungguhnya
lebih adil. dewa-dewa tidaklah digambarkan dengan jenis kelamin yang
jelas. siapa yg berani bilang krisna itu laki-laki atau perempuan? atau
juga konsep semar? bahkan yang lebih keren lagi adalah Bugis yang
memilih Bissu seabagai pemimpin spiritual. mereka beralasan bahwa
manusia tidak pernah tahu tuhan itu laki-laki atau perempuan atau
mungkin bukan keduanya. jadi, mengapa tidak direpresentasikan keduanya
dalam tubuh bissu? juga dalam kisah kerajaan (cina, mongol atau jawa)
selalu ada konsep ibu suri. tempat di mana raja mengadu. di mana raja
meminta nasehat.
konsep ibu suri ini sayangnya juga tidak menunjukan perempuan sebagai
pemilik otoritas. perempuan lebih ditunjukan sebagai rumah. tempat
kembali. sosok yang mengayomi. menenangkan, tetapi bukan seseorang yang
memiliki kuasa. misalnyas aja dalam konsep matrilineal minangkabau.
meski garis keturunan ditarik dari ibu, namun pemilik otoritas tetaplah
mamak (paman dari ibu). ibu nampak seperti kerajaan inggris, sedangkan
mamak adalah perdana mentrinya, yang mengatur kuasa.
jangan-jangan begitu juga dengan konsep athena. dia adalah
bentuk-bentuk pengayom. pemberi. penasehat. tapi bukan pemilik
otoritas. karena apapun ceritanya akhrinya zeus lah yang berkuasa. dan
si ibu para dewa terlupakan oleh kaumnya.
atau, jangan-jangan ini bukan soal otoritas? jangan-jangan perempuan
memang diciptakan sebagai simbol kesakralan? perempuan itu dihormati,
dilindungi. karena itulah ajaran abrahamik turun di wilayah arab.
karena ingin melindungi perempuan. layaknya dewi sri yang memberi
penghidupan dengan mengorbankan tubuhnya, perempuan adalah mahluk
istimewa? si pengayom. peghilang duka. pelipur lara. pencipta hidup.
karena itulah perempuan diposisikan kultus. netral. tidak untuk terjun
dalam kuasa. namun semacam man (tuh, kalimat ini aja uda bias) behid
the gun. perempuan tidaklah bermain kuasa kasar. karena ia sakral.
dipuja puji layaknya ibu pertiwi. cawan suci perempuanlah pencipta
semesta. tempat lahirnya hidup. karena itulah tak ada kisah perempuan
dalam tarik menarik kuasa. seperti ken dedes yang tidak ikut berebut
kuasa. namun dari rahimnya lah lahir raja-raja jawa.
atau...
apakah sakralitas ini cuma pledoi si patriarki? supaya perempuan tak
usah menjadi saingan mengurus negeri? supaya perempuan hanya mengurus
suami dan meneteki adek bayi?