 |
 |
 |
 |
 |
|
Monday, October 12, 2009
filmnya agak basi sih, tapi aku baru nonton ni. judulnya transformers.
di scene-scene awal, dan banyak scene di dalamnya banyak sekali
menunjukan kemiliteran, dinas-dinas rahasia, pertempuran, serta
wilayah-wilayah khusus milik militer the states. tapi, dalam film ini,
sama sekali tidak diperlihatkan superrioritas militer atas sipil (yang
tak bersenjata).
jika dalam film janur kuning, enam djam di joga, dan serangan
fajar--atau mungkin ada film film lainnya?--sipil hanya ditampilkan
sebagai pelengkap derita, maka di film yang yahud ini sipil lah yang
ditampilkan lebih patriotik dari pada militer. dalam kebanyakan film
indonesia, sipil melulu ditampilkan sebagai pribadi yang lambat, tidak
dapat mengambil keputusan dengan cepat, licik, atau bahkan penghianat.
sedangkan militer ditampilkan sebagai sosok yang patriot, berjiwa
besar, cepat mengambil keputusan, sigap, dan bijak. (baca irawanto,
budi: film ideologi dan militer)
tidak demikian dalam tranformers. sipil ditampilkan sebagai sosok
pahlawan dalam film ini. dan kalaupun ada kemampuan militer yang dapat
berhasil untuk mengalahkan decepticons, maka itu adalah karena bantuan
sipil. sispil lebih banyak tampil sebagai pengambil keputusan, pemilik
informasi (yang tetap rendah hati), baik hati, sekaligus juga tokoh
kunci yang dapat menyelamatkan dunia dengan kemampuannya yang nampak
terbatas. karena sipil memiliki sesuatu yang disebut "More Than Meets
the Eye" oleh para autobots. bagi mereka manusia (sipil) memiliki
banyak kelebihan yang tak kasat mata. dan kelebihan itu bukanlah
kemampuan tempur fisik seperti yang dimiliki militer, namun apapun yang
dimiliki oleh Sam Witwicky.
dalam transformers, seluruh autobots bertransformasi dari kendaraan
roda empat yang biasa digunakan oleh sipil. mulai dari chevrolet,
hingga porsche. dan dengan kendaraan tanpa kemampuan tempur itulah
autobots berhasil mengalahkan megatron. sedangkan decepticons secara
keseluruhan memilih untuk menggunakan kendaraan kendaraan "dinas"
negara. mulai dari kendaraan polisi, hingga kendaraan tempur militer.
hanya satu decepticons yang mentransformasi dirinya menjadi mini compo.
dan tak ada satupun decepticons yang menggunakan "kendaraan sipil"
tersebut. dengan demikian perang pun berubah menjadi perang militer
melawan sipil. hanya segelintir militer yang ditampilkan membela para
sipil: beberapa orang (satu grup) yang berhasil selamat dari
penyerangan di padang pasir.
hal hal tersebut seolah menunjukan bahwa polisi serta militer dalam
keadaan damai di states adalah memiliki mental yang penghianat, licik,
serta tidak patriotik. sedangkan militer yang bekerja di luar states,
di wilayah konflik misalnya (dalam film ini yang ditampilkana dalah
Qatar), selalu ditampilkan sebagai sosok patriotik dan heroik. selalu
seperti itu sejak rambo 1 hingga 4. militer juga ditampilkan sebagai
sosok sok tahu yang terburu-buru mengambil keputusan. hal tersebut
ditampilkan ketika kelompok militer menahan Maggie madsen karena
membawa salinan rekaman sinyal dari para decepticons. padahal pada saat
itu maggie madsen justru hampir menemukan jalan keluar dari
permasalahan mereka.
dari seluruh militer yang ada dalam film ini, tak ada satupun yang
dapat menyelamatkan the cubes/ all star dari megatron. hanya sam
witwicky yang berjuang mati matian membawa cubes sendirian dengan back
up dari para autobots. begitu juga ketika bumblebee mengalami
kerusakan. tak ada satupun anggota militer yang berusaha menolong.
justru mikaela banes lah yang akhirnya memiliki ide untuk membantu
bumblebee. juga berkat mikaela banes, bumblebee dapat melumpuhkan
decepticons.
di akhir cerita, tak ada satupun yang dapat mengalahkan megatron,
pemimpin dari decepticons. jangankan militer, pahlawan sekaliber
optimus prime saja tak mampu. hanya satu manusia bijaksana yang
akhirnya mengalahkan megatron: ya, siapa lagi kalau bukan sam witwicky.
seolah berkata: militer minggir dulu, sipil sedang beraksi!
Posted at 10:58 am by jeng sueb
permalink
Tuesday, September 08, 2009
belakangan ini, orang indonesia kelimpungan, kebakaran jenggot, kok
budaya kita diambil sana diambil sini sih? tahu dipaten jepang, mega
mendung diaku malaysia, tari pendet dimasukan ke dalam iklan wisata
malaysia, beberapa motif batik lain diakui perancis. trus indonesia,
tempat kelahiran si artefak budaya itu, kebagian apa?
kenapa.
kenapa semua negara berbondong-bondong mengakui budaya Indonesia?
kenapa Indonesia diincar. tapi, budaya Indonesia itu yang mana sih?
jangan-jangan Indonesia aja yang GR, mengaku semua budaya Indonesia.
hayooo... yang mana budaya Indonesia?
selama puluhan tahun, yang diperkenalkan sebagai baju adat nasional, ya
cuma kebaya, kain jarik, dan baju tersanggul. trus yang pakai koteka,
diberangus. kata mereka sih dibuat jadi beradab. dibuat jadi punya
etika. etika yang mana ni? nilai yang mana? apa di papua memang ada
nilai bahwa yang pakai kaus oblong itu jauh lebih beradab dari yang
pakai koteka? beradab itu apa sih?
lalu, setelah penyeragaman yang dulu itu, muncul lagi yang baru.
sekarang, yang (dianggap) seksi juga dikebiri. jaipong tak lagi
berseri. tak pantas. tak bermoral. mengumbar hawa nafsu. weh... siapa
yang nafsu? siapa yang nyuruh situ nafsu? situ yang nafsu kok jaipong
yang disalahin? salahnya ga bisa menahan hawa nafsu.
dulu, siapa yang peduli untuk melestarikan tari pendet dalam skala yang
besar-besaran? siapa yang peduli sama tari pendet sebelum diklaim
bangsa lain? Ibu (sok) modern mana sih yang mendaftarkan anaknya untuk
les karawitan? jangan-jangan Indonesia memang agak kurang ramah dengan
budaya yang lahir dan berkembang di tubuhnya.
ada yang bilang, "pemerintah sih ga peduli, ga dipaten budayanya".
sungguh saya bingung dengan statement itu. pertama, budaya Indonesia
itu ada jutaan. kalau mau dipaten semua, jangan-jangan hutang
pemerintah akan bertambah tiga kali lipat dari sekarang sekadar untuk
bayar paten. kedua, dai buku antropologi yang saya baca, bahwa negara
yang berdekatan tak hanya bertukar artefak tapi juga bertukar budaya.
saling mempengaruhi satu sama lain. jadi, gimana kalau mereka juga bisa
membuktikan bahwa budaya tersebut sudah turun menurun berada di
wilayahnya. ketiga, emang budaya kayak buku ya? bisa dipaten.
maksudnya gini, kalau buku kan jelas ya. saya nulis buku, ya saya
pegang hak paten. atau sekelompok orang bikin model pesawat terbang, ya
hak patennya juga jelas dipegang para pemilik ide itu. tapi kalau
budaya? siapa yang punya? suku bangsa tertentu? tapi, suku bangsa kan
tidak terbatas teritori.
misalnya Indonesia mematenkan tari pendet. jadi hak nya tari pendet ada
di negara Indonesia. tapi, kalau ada orang Bali, yang turun temurun
tinggal di Afghanistan trus mereka mau art performance tari pendet
dengan bayaran super mahal, apa mereka ga berhak? mereka bukan warga
Indonesia lagi. tapi kan mereka adalah orang Bali dengan tradisi Bali.
masa ga boleh menarikan tradisi nenek moyangnya.
misalnya lagi, di iklan pariwisata Malaysia itu juga ada ditampilkan
budaya India. apa India lalu marah-marah dan membakar bendera Malaysia?
jangan-jangan malah orang-orang India di Malaysia justru senang. mereka
sudah diakui negara sebagai bagian dari Malaysia, sebagai warga negara
yang setara dengan etnis melayu dan cina di sana.
meski malaysia sudah menyebalkan.
tapi apa iya Indonesia juga sudah menjadikan budaya yang ada menjadi tuan rumah di tanahnya?
apa iya, budaya itu terbatas pada batas teritori? batas otoritas? batas negara tertentu?
Posted at 10:58 am by jeng sueb
permalink
Friday, September 04, 2009
cawan suci, laki-laki, dan kultus diri
awalnya adalah pembicaraan dua hari lalu yang tak juga menemukan titik
temu. kemarin dulu itu, saya penasaran apa yang ada dipikiran
teman-teman laki-laki saya, maka saya bertanya:
"bagaimana kalau seorang perempuan lebih kapabel dalam mencari nafkah dibandingkan suaminya?"
tentu saja saya berada di posisi: well, kenapa tidak perempuan mencari
nafkah. dan suami berada di rumah. kalau masalahnya adalah tekanan
sosial, ya ini harus dimulai dari sekarang untuk masyarakat menerima
yang seperti ini. dari pada serba ga beres?
bukan berarti menghinakan pekerjaan domestik. pekerjaan domestik juga
sungguh mulia. dan sering kali jauh lebih melelahkan dari pada menjadi
manajer bank. hanya saja yang saya coba katakan adalah bahwa perempuan
dan laki-laki berhak memilih. laki-laki dan perempuan punya hak dan
kesempatan yang sama untuk memilih mengurusi yang domestik dan atau
bread winning. laki-laki juga berhak dong memilih untuk mengurusi
rumah. kalau memang si laki-laki lebih kapabel di urusan domestik dan
si perempuan lebih kapabel mencari nafkah, kupikir pertukaran peran sah
sah saja.
karena belum ada kata sepakat, diskusi bergulir ke masa berburu dan
meramu. dulu, perempuan punya otoritas dalam kelompok karena urusan
bercocok tanam menjadi wilayah yang diatur perempuan. sedangkan
laki-laki hanya berburu. dan pada saat itu bercocok tanam menjadi
aktivitas yang sangat penting. seperti mengamini marx (i'm not good in
theory. ask for your apologize if i made mistakes about it), bahwa
pemilik otoritas adalah ia yang memiliki alat produksi dan ahli dalam
proses produksi. jadi pada saat itu perempuan lah yang memiliki
otoritas. sayangnya karena laki-laki lebih banyak memiliki waktu luang,
dan (lagi-lagi) kata marx bahwa proses belajar mencari ilmu adalah
pengisi waktu luang, maka akhirnya laki-laki lebih memiliki kesempatan
untuk berilmu. sehingga mereka bisa menciptakan konsep ini dan itu, dan
akhirnya mengambil alih kuasa.
pembicaraan kembali bergulir. kali ini ke konsep yunani. adalah Gaia,
ibu dari segala dewa dewi. ibu dari manusia. ibu dari alam semesta. dan
inilah konsep di mana perempuan (ibu) berada dalam tataran yang tinggi.
sayangnya mitos gaia terkalahkan oleh seksinya zeus yang mata
keranjang. di masa zeus, juga tidak boleh terlupakan bahwa ada hera.
sang dewi perkasa yang membuat zeus bertekuk lutut. kegenitan zeus
sempat dibalas hera dengan bergenit-genit dengan dewa (atau manusia
laki-laki saya lupa) lain. namun ketika zeus pura-pura mati, hera
menjadi sedih dan memutuskan untuk setia. selanjutnya, hera malah
menyalahkan dan menghukum setiap perempuan yang didekati zeus dengan
alasan mereka telah bertindak tanpa etika. hal ini sangat disayangkan
karena secara tidak langsung hera menyalahkan korban dalam sebuah kasus
perkosaan.
diskusi masih terus bergulir. dari mitos eropa, mitologi jawa juga tak
kalah seru. konsep timur mengenai laki-laki dan perempuan sungguhnya
lebih adil. dewa-dewa tidaklah digambarkan dengan jenis kelamin yang
jelas. siapa yg berani bilang krisna itu laki-laki atau perempuan? atau
juga konsep semar? bahkan yang lebih keren lagi adalah Bugis yang
memilih Bissu seabagai pemimpin spiritual. mereka beralasan bahwa
manusia tidak pernah tahu tuhan itu laki-laki atau perempuan atau
mungkin bukan keduanya. jadi, mengapa tidak direpresentasikan keduanya
dalam tubuh bissu? juga dalam kisah kerajaan (cina, mongol atau jawa)
selalu ada konsep ibu suri. tempat di mana raja mengadu. di mana raja
meminta nasehat.
konsep ibu suri ini sayangnya juga tidak menunjukan perempuan sebagai
pemilik otoritas. perempuan lebih ditunjukan sebagai rumah. tempat
kembali. sosok yang mengayomi. menenangkan, tetapi bukan seseorang yang
memiliki kuasa. misalnyas aja dalam konsep matrilineal minangkabau.
meski garis keturunan ditarik dari ibu, namun pemilik otoritas tetaplah
mamak (paman dari ibu). ibu nampak seperti kerajaan inggris, sedangkan
mamak adalah perdana mentrinya, yang mengatur kuasa.
jangan-jangan begitu juga dengan konsep athena. dia adalah
bentuk-bentuk pengayom. pemberi. penasehat. tapi bukan pemilik
otoritas. karena apapun ceritanya akhrinya zeus lah yang berkuasa. dan
si ibu para dewa terlupakan oleh kaumnya.
atau, jangan-jangan ini bukan soal otoritas? jangan-jangan perempuan
memang diciptakan sebagai simbol kesakralan? perempuan itu dihormati,
dilindungi. karena itulah ajaran abrahamik turun di wilayah arab.
karena ingin melindungi perempuan. layaknya dewi sri yang memberi
penghidupan dengan mengorbankan tubuhnya, perempuan adalah mahluk
istimewa? si pengayom. peghilang duka. pelipur lara. pencipta hidup.
karena itulah perempuan diposisikan kultus. netral. tidak untuk terjun
dalam kuasa. namun semacam man (tuh, kalimat ini aja uda bias) behid
the gun. perempuan tidaklah bermain kuasa kasar. karena ia sakral.
dipuja puji layaknya ibu pertiwi. cawan suci perempuanlah pencipta
semesta. tempat lahirnya hidup. karena itulah tak ada kisah perempuan
dalam tarik menarik kuasa. seperti ken dedes yang tidak ikut berebut
kuasa. namun dari rahimnya lah lahir raja-raja jawa.
atau...
apakah sakralitas ini cuma pledoi si patriarki? supaya perempuan tak
usah menjadi saingan mengurus negeri? supaya perempuan hanya mengurus
suami dan meneteki adek bayi?
Posted at 10:59 am by jeng sueb
permalink
Tuesday, August 11, 2009
what age you're going to get married?
akhir-akhir ini saya baru menyadari kalau begitu banyak teman saya yang sudah menikah. ini sungguh tak diduga-duga. saya pikir dari latar belakang SMA dan perkuliahan saya, teman-teman akan memilih untuk melajang dulu, berkarir, baru akan menikah selepas usia 25. atau mungkin 30an bagi teman pria. tapi ternyata saya salah. bahkan seorang teman yang baru saja menikah dua bulan lalu adalah orang yang disangka-sangka akan menikah nanti-nanti oleh banyak teman. apa tidak terlalu muda? pikir saya. iya, apa tidak terlalu muda? hey, saya baru akan 22 di bulan November nanti. itu artinya teman-teman saya juga baru berada di kisaran 22-23. kenapa mereka menikah semuda itu? masih tidak bisa saya mengerti. seorang teman mengaku jujur bahwa seks menjadi salah satu faktor utama dari banyak faktor lain yang membuat ia ingin segera menikah. tapiii... gosh... saya pikir kok dangkal sekali sih kalau menghalalkan seks menjadi salah satu faktor utama untuk menikah. no offens, hanya saja, entahlah ya... saya pikir esensinya haruslah lebih dari itu. you're not only share the same bed in your whole life with the same guy, but also share the bad. apa yang membuat mereka menikah terlalu muda? (tapi jujur saya yakin mereka pasti juga sudah memikirkannya masak-masak) menikah. bukan hanya sibuk-sibuk dihadapan penghulu. bukan sekadar mengurus buku nikah dan segala administrasi. bukan sekadar tersenyum dengan pakaian bagus, sajian hidangan serta tetamu yang berpakaian bagus. bukan sekadar berjanji akan menemani dalam susah atau pun senang. tapi juga menjalani dalam susah ataupun senang. iya kan? dan omong-omong soal cinta, bukannya juga cinta bisa hilang? iya, cinta bisa dirawat, tapi, we're just 22/ 23, we're not revealing this world yet. dari mana kita tahu kalau cinta yang ini akan berhasil dan terus begini ketika umur kita 56? bukankah kita masih terlalu muda dan berpacu dengan hormon? jangan-jangan ketika horny, si hormon jadi salah omong. bukannya bilang "aku jadi horny liat kamu pake gaun itu" tapi malah jadi "wah, kamu cantik pake itu, aku jadi makin cinta". nah looo? ah, segala urusan pernikahan ini agak aneh... ada kemungkinan saya kemakan omongan, eh, kemakan tulisan saya ini. tapi setidaknya hingga sekarang saya masih berfikir untuk menikah minimal selepas ulang tahun yang ke 24/ 25. . 
Posted at 02:09 am by jeng sueb
permalink
Monday, August 10, 2009
sepasang muda mudi yang saling berpagutan mesra di antara anak-anak kecil yang lari-lari, koprol, dan berebutan koin.
siang tadi saya berenang di kolam renang umum. memang tidak terlalu ramai. hanya ada sekitar lima atau enam orang selain saya, dan beberapa anak-anak, serta seorang muda mudi yang berpacaran.
siang itu, kolam renang sepi. hanya ada dua pemuda selain pacar saya yang berenang di sekitar saya, dan sepasang muda mudi yang sedang pacaran itu.
siang itu, kedua orang pacaran itu sungguh membuat mata sepet. rasanya saya ingin menyewakan kamar hotel buat mereka berdua.
sebenernya saya itu orangnya bebas dan santai sekali, ga mau pusing-pusing ngurusin orang lain. you can do whatever you do as long as it don't disturb anybody. you can have sex with anyone you want as long as you didn't hurt anybody else, IN THE PROPER PLACE. dan kayaknya kolam renang umum itu bukan proper place.
anggaplah, kolam renang itu hanya didatangi oleh orang-orang dewasa. silahkan saja kamu mau melakukan apa. dengan asumsi orang dewasa sudah bisa menyaring dan mencerna apa-apa yang mereka lihat, dengar, rasakan. atau, kamu cium-ciuman saat dugem di hugo's atau embassy, aku pikir orang juga ga bakalan protes.
tapi ya, tolong deh, kolam renang itu diperuntukan bagi umum. dan ada banyak anak-anak yang ikutan berenang di sana. mereka monda-mandir, jungkir balik, koprol di depan muda mudi di mabuk asmara itu, dan mereka tetap berpagutan mesra, saling memeluk satu sama lain. gosh... kamar hotel di kaliurang kayaknya masi banyak yang kosong...
mungkin ini ya yang bikin anak kecil jaman sekarang uda pinter cinta2an dan pacaran. ga cuma tayangan sinetron dan lagu lagu aja (ya ampuuunnn... jaman aku kecil, lagunya masih seputaran jalan-jalan ke gunung, mau jadi dokter, dan lagu buat mama. tapi, jaman sekarang, anak sd kelas satu aja uda punya konsep soal perselingkuhan dari lagu yang mereka nyanyikan!), merka bahkan bisa merekam videonya sendiri dari tayangan live yang ada dihadapan mereka!
Posted at 01:22 am by jeng sueb
permalink
Sunday, August 09, 2009
"jangan menangis" kataku pada gadis dihadapku. apa boleh buat, dia menangis juga akhirnya. apa boleh buat, ayahnya tak lagi ada untuk memaksanya berhenti menangis. tapi, tak bisakah ia berhenti menangis tanpa diminta ayahnya? tak bisakah ia sekadar berhenti menangis saja? tak bisakah...
"jangan menangis" ulangku pada gadis itu
"jangan menangis" ulangku lebih kuat
"baiklah menangis saja" kataku akhirnya
(ah... basah juga pipiku, air matanya? bukan, air mataku)
Posted at 04:41 am by jeng sueb
permalink
Tuesday, June 23, 2009
ibu, ibu ibu ibu semua cerita selalu bercerita dengan ibu. surga ada ditelapak kaki ibu. dan setiap cerita sumpah yg manjur adalah sumpah ibu. kenapa ayah jadi termarginalkan dalam cerita? meski sesungguhnya ayah yg punya kuasa.
Posted at 02:27 am by jeng sueb
permalink
Thursday, June 04, 2009
saya bukan simpatisan Prabowo atau Megawati. saya bukan simpatisan partai manapun. tapi saya lihat, beruntung sekali megawati telah mengambil Prabowo sebagai wapresnya. coba lihat kelakuan megawati selama ini, mulaid ari dia menjabat sebagai presiden. hmmm... secara politis, ga ada yang menguntungkan. bersitegang dengan sby justru membuat peluang sby menjadi presiden di 2004 lebih terbuka. bagaimana tidak, pada saat itu sby justru menjadi contoh bagus bagi para menteri untuk mengambil sikap tegas jika atasan dianggap tidak lagi baik. wajar saja jika akhirnya dia menang dalam pilpres saat itu, masyarakat terlanjur mendapatkan citra mega yang mendhalimi sby. bahkan ketika sudah menjadi presiden sekalipun, sby tetaplah didhalimi mega. megawati banyak mengritik sby, namun tidak konsisten. misalnya saja soal BLT, PDI-P di bawah pimpinan megawati mengecam kebijakan tersebut dengan berbagai macam sebutan. membodohi rakyat salah satunya. tapi lihat iklan PDI-P menjelang Pileg 2009. satu lagi yang paling kekanakan adalah sikap mega yang tidak mau menemui sby. ngambek mungkin. baru akhir-akhir ini saja dia mau menemui sby sebagai manuver politiknya. bahkan di hari pengambilan no urut, mega ngoyor aja keluar ruangan tanpa menyalami satupun pasangan lain. mungkin menyadari sikapnya itu disorot kamera dan dilihat berjuta pasang mata, akhirnya di kembali ke ruangan dan menyalami pasangan SBY berbudi dan JK Win. namun lihat manuver politik Prabowo saat ini. sudah sejak setahun yang lalu, prabowo menampilkan citra sebagai sipil yang dekat dengan proletar. hkti menjadi kendaraan politiknya. soal kemiliterannya di masa lalu tak pernah disinggung. dugaan kudeta dan penculikan hanya dijawabnya dengan senyum. meski saya juga masi curiga dengan sepak terjang Prabowo, namun saya akui bahwa cara pencitraannya di media massa memang luar biasa. hingga saat ini, Prabowo adalah satu2nya yang paling programis (setidaknya dalam citra di media--lagi pula bukankah sekarang era pemilihan dalam citra media). hampir semua program yang diusung Mega-Pro, adalah bagian dari 8 program aksi untuk kemakmuran rakyat yang sudah diusung Prabowo dalam Pileg. revolusi putih yang diusung Mega pun sudah ditawarkan Prabowo dalam iklan HKTI, jauh sebelum keriuhan Pileg. prabowo juga berkeliling menyalami semua pasangan capres-cawapres. bahkan sebelum itu, ia pun besilaturahmi dengan banyak partai politik. saya yakin, ide berkampanye di wilayah-wilayah tertentu juga merupakan manuver Prabowo. dan jika ia menang dalam pilpres kali ini. dengan keambisiusannya, PS bisa justru menjadi lebih dominan dari sang presiden: megawati. dan jika dalam massa lima tahunnya menjadi wakil ia bisa memenangkan hati rakyat, ini akan menjadi loncatannya untuk 2014. btw, perhatiin deh foto di bawah:
prabowo ama mega mukanya mirip ya?!
Posted at 11:00 pm by jeng sueb
permalink
Monday, May 25, 2009
kubiarkan cahaya ufuk timur merenggutmu, angin yang gelisah rupanya isyarat tuk memilikimu, kabut terasa membakar cahaya, namun langit begitu pilu, cahayanya ngilu
hanya aku yang menjelma suara. kau mungkin lelah dengan desah udara di jalan menikung itu, yang kini kutempuh tanpa nafasmu merengkuh pundakku. subuh telah tuntas, dengan warna yang tak kan terkelupas.
sungguh, jika tak lagi dapat berteduh, di manakah harus kucari atap baru?
untuk ayahku, dalam kenangan...
Posted at 01:50 pm by jeng sueb
permalink
Saturday, May 16, 2009
Going to be hiatus (again) for several weeks.
karena ini bab 4 malah ga rampung-rampung. tiap buka laptop, langsung fesbukan ato ngeblog. niatnya setengah jam doang, malah jadi tiga jam. hahaiiii... sampai berjumpa di lain waktu y...
Posted at 11:36 pm by jeng sueb
permalink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
jeng suebwhat people think about me is their bussiness, NOT MINE
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |