Entry: warisan jalan menikung Monday, May 25, 2009



kubiarkan cahaya ufuk timur merenggutmu,
angin yang gelisah rupanya isyarat tuk memilikimu,
kabut terasa membakar cahaya, namun langit begitu pilu,
cahayanya ngilu

hanya aku yang menjelma suara.
kau mungkin lelah dengan desah udara di jalan menikung itu,
yang kini kutempuh tanpa nafasmu merengkuh pundakku.
subuh telah tuntas, dengan warna yang tak kan terkelupas.

sungguh, jika tak lagi dapat berteduh, di manakah harus kucari atap baru?



untuk ayahku, dalam kenangan...

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments